Anak semata wayang mereka terpaksa dititipkan di rumah neneknya. Sepasang pasangan suami istri (pasutri) muda terpapar Covid-19, namun bisa betrahan hidup dan isolasi mandiri di rumah kontrakan dengan memperketat protkes.
Selama 14 hari berkurung dalam rumah, Fad dan Din terpaksa melakukan isoman setelah mengetahui keduanya terpapar Covid-19. Padahal, kedua pasutri muda ini sudah membiasakan mengubah perilaku selama pandemi Covid-19. Memakai masker, sering mencuci tangan atau menyiapkan hand sanitizer dikendaraan, bahkan jarang ke tempat umum alias menghindari kerumunan.
Tapi entah darimana datangnya virus dari Wuhan tersebut hingga bersarang ke tubuh pasutri muda ini. Setela mengetahui terkonfirmasi positif Covid-19, untuk saja anak semata wayang yang baru berumur sekitar 3 tahun lebih, sudah diungsikan tinggal di rumah neneknya, yang berjarak sekitar 10 menit perjalan dari rumah tinggal mereka di kompleks perumahan Pobundayan Kota Kotamobagu.
Hanya pasutri muda ini yang tinggal di rumah kontrakan mereka, dan selama 14 hari tidak pernah keluar rumah, hingga benar-benar dinyatakan negative setelah hasil swab kembali dilakukan, sebab hasil pertama keduanya positif Covid-19.
Tapi, Isoman bukanlah hal yang gampang karena kebutuhan juga harus terpenuhi setiap hari, untung saja jasa ojek online begitu gampang sehingga makanan, obat-obatan, vitamin, buah dan kebutuhan lainnya bisa terpenuhi dengan sekali klik via media sosial.
Pintu rumah kadang dibuka agar tidak ada yang bisa langsung masuk ke dalam rumah. Untung saja Fad yang kesehariannya membuka bisnis digital hanya berkantor dalam rumah, dengan sebuah ruangan tempatnya bekerja. Sebagai penjual akun-akun media dan media sosial, untuk transaksi bisnisnya hanya melalui online, sehingga tidak banyak bertemu langsung dengan orang lain.
Bagaimana dengan pesanan kebutuhan harian, seperti makanan dan lainnya, mereka menggunakan jasa Ojol, tapi saat barang tiba mereka menyuruh merauh di depan pintu saja, dengan untuk sewa dilakukan via internet banking atau cash tapi dibungkus dengan plastic dan memberitahukan langsung kepada tukang Ojol bilamana mereka sedang Isoman, jadi jangan langsung memegang barang yang mereka berikan.
“Begitu kami memberitahu kepada tukang Ojol, kasian kan mereka jangan terjangkit virus, kami juga punya kewajiban menjaga kesehatan orang lain,” kata Fad, saat ditanya media ini, Jumat (30/7).
Saat Isoman kondisi keduanya sempat memburuk namun tidak terlalu parah sehingga membutuhkan oxygen. Hanya saja, demam tinggi, batuk, flu dan kehilangan penciuman dan kehilangan rasa sudah dilalui. Dan kami berdua saling support tidak panic walaupun hanya di dalam rumah karena masih mengurung diri.
Obat-obatan sudah disiapkan sesuai petunjuk medis, dan arahan orang lin seperti sering menghirup bau minyak kayu putih, kemudian makan makanan yang bergizi serta makan buah kami sering lakukan, agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
“Dan yang paling penting, kami selalu sholat lima waktu sebagai ikhtiar kepada Tuhan, karena sebagai umat yang percaya akan Tuhan, kepadaNya lah kita harus meminta dan selalu positif tingking,” kata Fad lagi.
Komunikasi dengan keluarga hanya via selular selama melakukan Isoman. Anak kami sudah dititipkan di rumah neneknya. Untuk saja, dia terbiasa dengan nenek dan kakeknya, yang kebetulan di rumah itu, ada juga dua orang adik perempuan dari Din, yang turut menjaga anak mereka, sehingga Ia tidak kangen dan harus bertemu dengan kedua orang tua yang tidak bisa kontak langsung dengan orang lain.
Lebih parahnya Din sedang hamil muda, umur kandungan sekitar 3 bulan. Sebuah kebahagiaan kedua Pasutri muda ini, karena aka nada lagi anggota keluarga yang bakal bertambah. Tapi disituasi pandemic Covid-19 seperti ini, kehamilam sangat rentan akan bahaya virus dari Wuhan tersebut. Apalagi Ibu hamil akan banyak mengalami perubahan seperti hiperkoaulabilitas (darah lebih lengket/kental), kapasitas paru-paru berkurang, beban jantung bertambah, imunitas menurun, sehingga apabila ibu hamil terinfeksi Covid-19, maka dapat memperberat kondisi-kondisi di atas.
Sehingga cara agar tubuh tetap kuat, yakni tetap menjaga asupan nutrisi, berolahraga ringan dalam rumah, menjaga agar tubuh tidak terhidrasi, menurangi minuman manis. Selain itu tidak panik.
Untung saja beberapa minggu lalu, hasil swab sudah negative, sehingga si kecil sudah kembali bersama-sama dengan mereka, dan dengan pengalaman tersebut, kini pasutri muda itu benar-benar mengikuti anjuran pemerintah dengan menerapkan protkes 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak), tidak selalu ke luar rumah, saat ini kebutuhan lebih banyak dipesan melalui online.
Terkadang kita sudah berjaga-jaga tapi di luar sana banyak juga yang masih acuh tak acuh dengan bahaya Covid-19. Tapi karena sudah pernah terpapar, maka selang seminggu lalu usai Isoman mereka tidak banyak beraktivitas di luar rumah, apalagi di Kotamobagu, masih diberlakukan PPKM level 3.
Menurut Fad dan Din, sebaiknya mengikuti saja anjuran pemerintah, bagaimana mengubah perilaku dimasa pandemi Covid-19. Kan tidak terlalu sulit untuk memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, karena menjaga kesehatan harus dari diri sendiri, kemudian keluarga inti (terdekat).
Penulis: Fahmi Gobel






Comment