by

Dampak Covid19 Prduksi Tahu Turun, Ini Cara Papa Aaan Tetap Bertahan

Pandemi Covid-19 justru mengajarkan saya (Papa Aan) agar lebih irit. Produksi tahu dikurangi, namun pendapatan masih tetap, itu karena menjual sendiri di pasar. Disisi lain, kami keluarga sudah ikuti anjuran taati 3M.

Sejak Pandemi Covid-19 banyak usaha kecil menengah (UMKM) terdampak bahkan terancam bangkrut. Tak terkecuali produksi tahu dan tempe di Kotamobagu yang menurun drastis karena kebijakan PSBB dan berlanjut ke PPKM belum lama ini.
Industri tahu dan tempe terdampak sangat signifikan, seperti usaha tahu milik Papa Aaan di Kelurahan Mongkonai, Kecamatan Kotamobagu Barat, Kota Kotamobagu.

Tuntutan harus mengubah perilaku hidup sehat dan mematuhi protokol kesehatan (protkes) Covid-19, dengan menerapkan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak setiap saat, disisi lain juga usaha yang menghidupi keluarganya terancam bangkrut bila tidak secepatnya dicarikan solusi.

Usaha yang dirintisnya itu nyaris babak belur bila Ia tidak cepat mengubah pola kerja karyawan akibat pandemi Covid-19. Jika sebelumnya dia mampu mengelola sekitar 300 kg kedelai per hari, saat ini tinggal 120 kg per hari. Hal inipun berdampak kepada 4 orang karyawannya yang mau tidak mau dikurangi waktu kerja.

Diceritakan Papa Aan, sebelum pandemi Covid-19, Ia memproduksi tahu dan tempe dari biji kedelai sebanyak 6 karung (50 kg per karung), dengan jumlah karyawan 4 orang. Mereka mulai bekerja dari Pukul 08.00 Wita sampai malam sekitar Pukul 20.00 Wita, 4 orang itu bekerja setiap hari dengan gaji harian.

Sebelum pandemi Covid-19, Ia tidak menjual tahu dan tempe di pasar, tapi hanya kepada langganan tetap para penjual jajanan tahu, penjual mie gerobak, dan penjual sayur keliling, sejak malam hingga keesokan harinya, produksi tahu akan ludes terjual, dengan harga Rp55 Ribu per bak, satu bak diiris sesuai ukuran dari pemesan.

“Kondisi saat itu bagus, produksinya bagus dan karyawan juga kerja setiap hari ada empat orang,” kata Papa Aan, Kamis (30/9).
Setelah pandemi menyerang, langsung berpengaruh besar pada pendapatan, jumlah produksi menurun karena kurangnya pesanan, mirisnya lagi harga kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe kerap naik, hingga menyentuh Rp 600-700 ribu per karung, pernah juga sampai jutaan.

Panjang diceritakan, faktor-faktor menurunya produksi tahu tempe, yaitu pada saat penutupan pasar Serasi Kotamobagu, dan penjual kuliner dirazia saat jualan, serta penjual sayur keliling tak bisa masuk ke kampung-kampung karena PPKM, begitupun rumah makan dan restoran banyak ditutup, otomatis lagsung mempengaruhi produksi, dan ini pengalaman pahit selama sekitar 10 tahunan Papa Aan menjadi pengusaha tahu tempe.

Imbas dari tak adanya warga ke pasar, penjual jajanan dan penjual keliling tidak lagi banyak berhenti dan banting setir cari pekerjaan lain, kondisi inilah membuat penjualan tahu menurun drastis.

Karena sering merenungi kondisi saat itu, setelah mngkalkulasi lagi pengeluaran, pendapatan dan tenaga kerja yang akan dipake, Papa Aan seolah beroleh ide sederhana namun brilian, tahu tetap diproduksi tapi stok dikurangi, karyawan diatur jadwal kerja, dan harus di jual sendiri.

Dia menambahkan, perubahan perilaku saat new normal saat ini di tempat usaha sudah dilakukan. Pengarahan dari pemerintah kelurahan sering dilakukan, kami keluarga dan karyawan juga sudah mencoba mengikuti protkes Covid-19.

“Kami sudah siap mengikuti protkes Covid-19, terakhir kemarin (Kamis) Ketua RT datang menyampaikan jadwal vaksinasi, kami akan ikuti, namun yang diharapkan situasi ini bisa pulih lagi dan usaha tahu kembali normal,” harapnya.

Karena situasi sulit itu, akhirnya Papa Aan memutar otak agar usaha tetap jalan. Jumlah produksi terpaksa harus diturunkan, dan hanya 2 karung (50 kg per karung) kedelai per hari. Dan harga jual per kotak terpaksa dinaikan agar masih ada keuntungan.

Terpaksa karyawan diatur sift kerja, dengan cara sehari masuk, sehari tidak, jadi hanya dua orang yang kerja per hari agar. Begitupun penjualan kepada pelanggan sudah dikurangi karena harga jual juga dinaikan Rp 60000 per kotak. Tahu lainnya di jual langsung di pasar.

Dengan mengubah pola kerja serta menurunkan jumlah produksi dan menjual tahu sendiri di pasar justru ada beberapa keuntungan, ibaratnya pandemi membawa berkah sendiri. Mengapa demikian, kini Papa Aan dan karyawan hanya bekerja dari Pukul 08.00 Wita sampai sore, dan tidak lagi kerja malam.

Soal keuntungan menurutnya sama saja, sebab istrinya sekarang jualan di pasar, bila dihitung jumlah produksi lalu dengan 6 karung per hari dengan beban kerja yang tinggi, kerja dari pagi sampai malam hari, karena menuhi permintaan pelanggan.

Dan saat ini hanya 2 karung per hari, kerja tidak berat di jual langsung setelah dihitung keuntungannya hamper sama, kami masih bisa mengumpulkan Rp 10 Jutaan per bulan, setelah dipotong gaji kepada karyawan.

“Jadi keuntungannya, saya tidak kerja sampai malam, masih boleh istrirahat, karyawan juga kerja santai tidak terburu-buru memenuhi permintaan pelanggan,” katanya.

Jadi situasi sesulit apapun bila kita menyesuaikan pasti ada jalan keluar. Papa Aan hanya berharap pandemi Covid-19 bisa selesai dan ekonomi kembali pulih. Tapi situasi ini telah mengajarkan dia, bahwa tidak harus produksi banyak untuk mendapatkan keuntungan yang banyak, tapi produksi terbatas namun dikelola sendirian untungnya juga lumayan.

“Padahal saya sudah sempat kecewa, apalagi PSBB lalu, pasar sudah ditutup pasti tahu tidak akan laku, namun ikhtiar tetap ada hasil, Alhamdulillah,” kata Papa Aan.

Kini penjual jajanan sudah mulai aktif lagi, restoran dan café dibuka normal, geliat di pasar tradisional sudah nampak, artinya perputaran ekonomi sudah mulai merangkak naik. Tapi Papa Aan akan bertahan dengan jumlah produksinya saat ini, karena menurutnya untung penjualan hampir sama, dan Ia sendiri masih bisa istrahat lama di malam hari, karena di saat sore jualan tahu tempe sudah di drop dengan mobil ke lapak di pasar, esok harinya pukul 05.00 pagi, istrinya akan pergi jualan, pulang ke rumah pun di Pukul 10.00 Wita

“Jadi ternyata ada banyak keuntungan lain dimasa pandemi ini,” tutup Papa Aan.

 

Penulis: Fahmi Gobel

Comment