by

Gusdurian Bolsel Sukses Gelar Diskusi di Kecamatan Helumo

-BOLSEL-26 views

mediatotabuan.co, Bolsel — Komunitas Jaringan Gusdurian Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) sukses menggelar diskusi ke empat dengan mengambil tema “Relasi Islam dan Kearifan Lokal” yang dilaksanakan di Warung Kopi Narafa, Desa Pangia, Kecamatan Helumo, Rabu (27/7) malam.

Pada serial BACIRITA GUS DUR yang ke empat ini penggerak Gusdurian Bolsel menghadirkan pemantik: Sekretaris IKA PMII Bolsel, Noldy Tangahu dan Aslan Ahyar. Diskusi yang dihadiri puluhan peserta itu juga dihadiri oleh Sekretaris Camat Helumo, Alan Mooduto, Prosidium KAHMI Bolsel, Abidin Patilima dan Andreas Keloay yang merupakan non muslim.

Pemantik diskusi, Noldy Tangahu, mengatakan Kabupaten Bolsel mesti mesti bersyukur di mana daerah ini dianugerahi kultur masyarakat yang beragam, baik agama dan suku. Sehingga, katanya, perbedaan ini bisa menjadi kekuatan dalam rangka membangun Bolsel di masa yang akan datang.

“Di Bolsel ada empat suku yang hidup berdampingan, mulai dari Gorontalo, Mongondow, Bolango dan Sangir. Tentu kita tahu bersama setiap suku ini memiliki tradisi dan budayanya masing-masing. Ini kekayaan kita yang harus terus dirawat,” kata Noldy.

Sementara agama di Bolsel, katanya, ada Islam, Kristen, Hindu dan Katolik. Menurut Noldy, beragamnya agama dan suku di daerah yang kini berusia 14 tahun tersebut menggambarkan perbedaan merupakan keniscayaan.

“Perbedaan-perbedaan bukanlah kelemahan. Melainkan kekuatan. Sehingga, saya berharap Gusdurian Bolsel menjadi garda terdepan untuk terus merawat semua ini, sebagaimana yang telah diteladankan Gus Dur semasa hidupnya,” kata Noldy.

Sementara itu, menurut Aslan Ahyar, yang juga merupakan pemantik dalam diskusi tersebut menuturkan salah satu yang menarik dalam pemikiran Gus Dur, yakni konsep ketauhidan.

Di mana, lanjut Aslan, cucu pendiri Nahdlatul Ulama tersebut mampu mengontekstualisasikan nilai-nilai yang diusung di dalam Al-Qur’an. Semisal, Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin’ yang artinya adalah: “kami tidak mengutus mu (Muhammad) melainkan untuk memberikan rahmat bagi seluruh alam”.

“Beliau (Gus Dur) mampu mempraktekkan nilai-nilai ketauhidan itu di dalam laku hidupnya, tanpa memandang agama, suku, ras dan lain sebagainya. Selama dia manusia, maka harus diperlakukan selayaknya manusia itu sendiri,” ujarnya.

Selain itu, Aslan menambahkan, terkait dengan relasi Islam dan kearifan lokal merupakan sesuatu hal tidak boleh dipisahkan. Sebab lanjutnya, proses masuknya Islam di Indonesia tidak lepas dari akulturasi dengan budaya setempat.

“Islam tidak anti dengan tradisi. Praktek ini pun sangat mudah kita jumpai di Bolsel, terutama masyarakat yang merupakan suku Gorontalo,” ujarnya.

Salah satunya, lanjut Aslan, tradisi Walima. Tradisi ini merupakan ekspresi kebudayaan masyarakat Gorontalo yang sudah dipraktekkan secara turun-temurun dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Di mana masyarakat membuat Tolangga yang diisi kue-kue tradisional. Kemudian Tolangga ini diantar ke masjid untuk diserahkan kepada mereka yang sudah semalam suntuk melantun dzikir. Isi dari pada dzikir ini adalah menceritakan kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW,” tandasnya.

Penulis: Apriyanto Rajak

Comment