Selain Lestarikan Budaya, Sanggar Seni Abo Tadohe jadi Wadah Anak Muda Berkegiatan Positif

mediatotabuan.co, Boltim – Indonesia merupakan negara dengan segudang keberagaman mulai dari suku, budaya, ras, bahasa, hingga kebudayaan masing-masing di tiap-tiap daerahnya.

Maka dari itu adalah tugas kita para generasi muda untuk menjaga serta melestarikan kebudayaan di daerahnya masing-masing.

Khususnya generasi muda yang ada di Bolaang Mongondow, yaitu budaya Mongondow agar dapat mempertahankan warisan budayanya secara turun-temurun dan tidak terkikis oleh zaman.

Seiring berjalannya waktu makin majunya perkembangan teknologi cepatnya keluar masuknya informasi, perlahan-lahan budaya Mongondow semakin terkikis dan mungkin mulai terlupakan. 

Hal ini kemudian memicu Herindra Chrisdianto Mamonto atau yang lebih dikenal dengan nama Kris bersama istri Ika Ayuputri Lomban atau Ayu untuk mendirikan sebuah wadah agar dapat menjadi sarana pelestarian budaya yang diberi nama sanggar seni Abo Tadohe.

Berdiri pada tanggal, 22 januari 2021 Sanggar seni ‘Abo Tadohe’ bertujuan menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai salah satu warisan leluhur serta sebagai sarana untuk pemuda agar melakukan hal positif.

Kris bersama istri punya keinginan untuk merangkul generasi muda agar melakukan hal positif dengan cara berkarya dalam bidang seni dan budaya agar tidak terjerumus kedalam hal-hal negatif.

Bertempat di Desa Moyongkota Baru, Kec. Modayag Barat, Kab. Boltim sanggar seni Abo Tadohe telah memiliki 31 anggota aktif.

Kepada Mediatotabuan.co, Kris menuturkan alasan pemilihan nama dengan diberi nama Abo Tadohe.

“Di pilihnya nama Abo Tadohe itu dikarenakan ada dua alasan pertama Beliau adalah punu/datu/ raja ke 8 yg memerintah kerajaan Bolaang Mongondow tahun 1620-1650, dan beliau yang mengatur siatem kehidupan masyarakat serta meletakan dasar perintahan kerajaan bolaang Mongondow,” Jelas Kris.

“Dan yang kedua Abo tadohe adalah raja yang sejarah perjalanannya ditemukan oleh Inde’ Dou’ di pesisir pantai desa Togid, Boltim,” lanjut Kris.

Dengan kata lain Abo Tadohe punya sejarah serta memiliki ikatan di Bolaang Mongondow Timur.

Menurut Kris Masyarakat Boltim khususnya pemuda harus mampu menjaga kelestarian budaya daerah dari beragam gempuran budaya asing yang masuk.

“tidak bisa dipungkiri torang melihat kenyataan bahwa generasi kita saat ini lebih memilih kebudayaan asing yang mereka anggap lebih keren dan modern. Para generasi muda saat ini lebih suka bermain media sosial dan cenderung lebih menyukai budaya luar,” kata Kris.

Ia pun menginginkan menjadi pusat kegiatan berekspresi dan berapresiasi bagi generasi muda.

Sanggar seni ini telah melakukan berbagai macam pertunjukan mulai dari dalam daerah hingga luar daerah.

Mulai dari pertunjukan tarian Tuitan dan Kabela penjemputan tamu hingga di ajar berkolaborasi oleh para konten kreator.

“Dari semua pertunjukan yang telah dijalani menurut saya yang paling berkesan adalah diajak berkolaborasi oleh konten kreator pada pengambilan video klip Moraoy oleh Braga indie Project,” tuturnya.

“Kemudian diajak lagi berkolaborasi lakukan tarian pertunjukan tarian Tuitan dan Kabela pada pengambilan klip video oleh Motobatu Project,” sambungnya.

Dirinya bersyukur sanggar seni-nya telah dikenal oleh banyak orang namun ia kurang setuju jika sanggar seni ini itu adalah milik ia dan isterinya.

Kris punya harapan besar agar para generasi muda untuk lebih dalam ber kegiatan positif terutama di bidang seni budaya.

“Untuk harapan kedepannya, semoga dengan adanya keberadaan sanggar seni abo’ tadohe dapat menjadi pelopor dalam kebankitan kembali budaya mongondow yang diperkasai oleh para anak muda,” tutupnya.

Penulis: Haswin Tomas
Redaktur: Gito Simbala

Comment