KOTAMOBAGU – Desa Tabang, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu, menyimpan sumber daya alam yaitu air bawah tanah yang bersih dan lekat akan budaya setempat.
Menariknya, air yang muncul dari bawah ini muncrat dari perut bumi, lokasinya masih kawasan pemukiman, berada di ujung kampung desa yang berpenduduk sekira 5000 jiwa itu.
Air Kotagatan begitu warga setempat menyebutnya. Biasa dikonsumsi oleh warga langsung dari sumbernya, tanpa direbus dulu, dan ini sudah sejak ratusan tahun silam.
“Tak pernah ada kasus gondok pada warga yang mengkonsumsi langsung air ini,” kata Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tabang, Ardhi Mokodompit SE.

Alumni Jogjakarta ini menuturkan, BPD sudah menguji tingkat pH (keasaman dan basa, red) air Kotagatan di laboratorium PDAM Manado.
“Hasilnya cukup mencengangkan. Keasaman dan basa ada pada angka normal, sama dengan pH air mineral kenamaan,” terangnya seraya menyebut merk dagang air mineral dimaksud.
Bahkan, lanjut dia, kemurnian air Kotagatan di atas dua digit dari air mineral kesohor yang kini merajai pasar air kemasan itu.
Debit air Kotagatan belum dihitung, namun pantauan media ini di lokasi, empat pipa besi penampang yang menjorok ke beton penampungan air berbentuk persegi empat, terlihat sama menyemburkan air deras, tanpa henti.
“Masih lebih banyak terbuang daripada terpakai dan tak pernah berhenti menyembur,” kata Kepala Seksi Pemerintahan Desa Tabang, Arman Hasan, menerangkan volume dan durasi sumber air tersebut.

Ia menceritakan, sekira tahun 80an, ketika Bolaang Mongondow, dilanda kekeringan lantaran kemarau panjang, orang-orang dari Tudu Passi (dataran tinggi Passi), turun menimba air Kotagatan.
“Sumber air ini tak pernah kering. Bahkan di musim panas volumenya bertambah,”katanya.
Sangadi Tabang, Junius Frits Dilapanga, dihubungi Senin (27/10/2025), mengungkapkan rencana pemerintah setempat menjadikan sumber air Kotagatan sebagai inovasi desa.
“Kami punya ekspektasi melalui inovasi desa mengelola air Kotagatan dalam bentuk kemasan, air isi ulang, dialirkan ke rumah-rumah penduduk dan air yang terbuang dimanfaatkan sebagai sarana pendukung waterboom untuk destinasi wisata air,”terangnya.

Bagaimana mewujudkan itu?
Pria yang lekat dengan sapaan papa Ridho, menerangkan, pemerintah desa akan bekerjasama dengan Koperasi Desa (KopDes) Merah Putih yang sudah dibentuk di wilayah dipimpinnya itu.
“KopDes Merah Putih, selain berbisnis dengan beberapa unit usaha yang sudah ditentukan, berpeluang pula mengelola sumber air ini. Setelah KopDes beroperasi, kami akan membicarakan langkah-langkah pengelolaan air Kotagatan termasuk pembiayaannya,”kata Junius.***






Comment