[FEATURE] Wawan Mengais Rejeki Jualan Es di Masa Pandemi

mediatotabuan.co, Kotamobagu – Senyumannya hilang dalam balutan masker berwarna hijau, kemeja putih kotak-kotak menemaninya di hari itu, tapi suara sapa dan tawa terdengar tak asing bagi pelanggan setianya, itulah mas Wawan sapaan akrabnya saat ditemui di depan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 2 Kotamobagu.

Pria paruh baya berumur 63 tahun ini, sejak pagi menjelang sore berjualan es campur di gerobak yang menjadi lumbung rejekinya sehari-hari. Sekitar 20 tahun sudah, pria ini menggeluti pekerjaannya, sumber penghasilan jualan mampu menghidupi istri dan menyekolahkan keempat anaknya.

Wawan Darmawan datang ke Kotamobagu 1982 silam. Dia pun mulai beradaptasi dengan kerasnya kehidupan di rantau. Berbagai pekerjaan pernah digeleguti, sebelum memutuskan berjualan es campur hingga saat ini.

Pria kelahiran Ciamis Jawa Barat, ini puluhan tahun jualan es campur berkeliling Kotamobagu, tapi seiring berjalan waktu, faktor usia membuat Wawan menjual es campur dengan mangkal dibawah teduhnya rindang pohon depan sekolah, Kelurahan Mongondow Kota Kotamobagu.

Sesekali Wawan menurunkan maskernya ke dagu untuk mengobrol saat di wawancara. Tampak rasa khawatir menemaninya selama berjualan dimasa pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), tapi tak membuat keceriaannya berjualan luntur. Itu semua ia lakoni demi keluarga dan si bungsu yang duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Selama pandemi Covid-19 membuat sejumlah usaha ditutup, bahkan tidak sedikit yang gulung tikar karena terputusnya penghasilan. Hal yang sama dirasakan Wawan, dimasa awal pandemi di Indonesia membuatnya berhenti berjualan karena takut tertular Covid-19.

Mengisi waktu luang selama masa awal pandemi Covid-19 di Indonesia, Wawan banyak berkumpul dengan keluarga, hobinya memancing menjadi pelampiasan karena tak bisa jualan.

Setelah kebijakan new normal diterapkan pemerintah Indonesia, Wawan kembali berjualan es campur. Kali ini beda suasana, karena wajib mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Masker menjadi perelengkapan yang wajib dibawanya saat berjualan, selain gerobak dan peralatan jualannya.

Bagi Wawan, jualan dimasa pandemi sama seperti sebelumnya, yang berubah hanya perilaku menerapkan protokol kesehatan, penghasilan saat jualan dimasa pandemi cukup untuk menghidupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.

Sehari Wawan mampu menghabiskan 80 mangkuk es campur dan es cendol dengan harga per mangkuknya Rp5000. Modal bahan-bahan untuk jualan hanya 200 ribu rupiah, baginya soal untung kecil atau besar tidak masalah, yang terpenting halal dan jualannya disukai pelanggan.

Tak sedikit pelanggannya yang berasal dari luar daerah, mereka mampir melepaskan dahaga dengan es campur buatan tangan dingin Wawan, sesekali terlihat Wawan mengingatkan pelanggan yang tak memakai masker.

Baginya kesehatan adalah yang terpenting, apalagi dimasa pandemi Covid-19 seperti ini, dirinya bersyukur sudah bisa berjualan seperti biasa, tetapi mematuhi anjuran pemerintah terkait protokol kesehatan Covid-19 adalah kewajiban semua orang termasuk dirinya.

(Mg1/Gito)

Comment