Inilah Jokes Lelucon Bermakna Dihari Sakral Pelantikan PW Ansor Sulut

“Bagi kami NKRI adalah warisan perjuangan para Kyai, yang akan kami jaga sebagaimana kami menjaga harga diri kami, bila ada yang mengganggu harga diri kami, maka mereka akan berhadapan dengan Ansor dan banser,” tegas Gus Menag.

Terciptanya kedamaian bukan hanya Ansor dan banser menerima manfaat, tapi untuk  seluruh warga negara bangsa ini tanpa memandang bulu.

Indonesia tidak akan pernah ada kalau tidak ada Islam, Indonesia tidak pernah berdiri kalau tidak ada Krsiten, tidak akan ada Indonesia kalau tidak ada Katolik, tidak ada Indonesia kalau tidak ada Hindu, Budah, Konghucu dan agama-agama lokal yang sudah ada sebelum Indonesia berdiri.

Menurutnya, keragaman Indonesia adalah kekayaan, kekayaan adalah warisan, warisan adalah harga diri yang harus dijaga.

“Nah, menjaga warisan dan harga diri ini tidak ada honornya, mereka ini urungan patungan bagi yang mampu, yang tidak mampu akan menjadi beban kawannya, itu biasa,” kata aqut, disambut tawa peserta.

Tapi saya yakin dan meyakinkan kepada bapak ibu sekalian, bahwa soal honor itu tidak akan mengurangi sedikitpun semangat dalam mempertahankan NKRI.

Lanjut Yaqut, doktrin kedua adalah menjaga para ulama, karena ulama ini penjaga moral.

“Ketika mulai melencng, misalnya karena sudah punya gaji banyak tiap malam datang ke karaouke, diingatin para ulama jangan banyak ke karaouke,” kata Yaqut, disambut tawa yang hadir.

Dan ulama NU tidak pernah sedikitpun berpaling dari kecintaan kepada NKRI. Kalau ada ulama atau mengaku ulama dan perintahnya merongong negara ini atau menyuruh membom tempat ibadah lain, Ia memastikan itu bukan ulama.

“Itu U baru, karena ulama pasti benar, kalau u baru nyeleneh ajarannya,” demikan jokers Gus Manag.

Ditegaskan, ada perintah dari pendiri NU bagi seluruh kader yakni Hubbul Wathan Minal Iman (mencintai tanah air, sebagian dari iman). Yang sudah tidak mencintai tanah air maka sudah hilang sebagian dari iman.

“Sebagian sudah dihabiskan ditempat-tempat karaouke,” katanya, diikuti tawa hadirin.

Ini bukan retorika kata Yaqut, karena Ansor telah membuktikan diberbagai tempat, diberbagai segmen sejarah, Ansor ikut berjuang bahkan sebelum Indonesia berdiri, karena tahun 1934 Ansor sudah berdiri.

“Artinya dalam fragmen-fragmen perjuangan Indonesia, pasti ada anak muda dan bagian dari anak muda pasti ada Ansor dan Banser. Tapi problemnya kami tida menerima gaji.

“Kalau ada anekdot TNI atau Polri marah-marah karena tanggal tua, kalau Ansor Banser marah tiap hari karena tidak pernah gajian. Tapi kita senang saja menikmati kemarahan ini, karena kemarahan ini aktualisasi kecintaan terhadap Indonesia,” kata Menag disambut tepuk tangan.

Comment