Eding Petani Holtikultura dari Insil, Pilih Berhemat dan Patuh Prokes Covid-19

Sementara, kebutuhan biaya untuk tanaman Kentang yang menjadi produk anadalan di Desa Insil begitu tinggi. Butuh sekitar 20-30 ton pupuk organik bagi lahan yang tingkat kesuburannya kurang memenuhi syarat. Kalau kesuburan cukup, biasanya pupuk organik yang digunakan sekitar 10-15 ton per hektar.

Hendri mengurai, pupuk dasar dibutuhkan 15-20 ton per hektar (Ha), takaran 30-40 kg/ha atau antricol dan dithane dengan takaran 2-3 kg per Ha.

Selain pupuk dasar itu, ada beberapa petani yang melakukan pupuk buatan (NPK atau Urea, ZA TSP, dan KCI). Takaran NPK kira-kira 100 g per lubang.

Kalau menggunakan campuran urea, ZA, TSP, dan K per lubang tanam takarannya 12g, 8g, 15 g, dan 5 g. Jadi diperlukan urea 225 kg, ZA 150 kg,TSP 300 kg, dan KCL 100 kg. Bila musim hujan, maka Urea hanya 100 kg tetapi ZA menjadi 400.

Biasanya pupuk buatan ditanamkan dekat lubang tanam dengan jarak 10 cm atau dimasukkan ke dalam lubang tanam. Pemberian pupuk ini dapat dilakukan bersamaan dengan pembuatan guludan atau bersamaan dengan pemberian pupuk organik dan pestisida.

Dengan biaya begitu tinggi kata Eding, apa hendak dikata, permintaan sayuran dimasa pandemi Covid-19 menurun drastis seiring kebijakan pembatasan sosial oleh pemerintah. Tapi sebagai warga juga tak menyalahkan siapapun selain mengikuti anjuran 3M yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.

“Karena hanya dengan 3M, kita bisa selamat dari ancaman Covid-19, itupun harus konsisten dengan prokes setiap saat,” kata pria yang sering menjadi penyelenggara pemilu di kecamatannya itu, Rabu (30/06).

Kentang, Daun Bawang dan Jagung adalah produk pertanian andalan di desanya, tapi tiga tanaman tersebut butuh biaya tinggi, sehingga berhemat dalam pengolahan tak dapat dihindari dengan cara mencari tanaman yang tidak butuh banyak pupuk, misalnya tanaman jahe.

Comment