Eding Petani Holtikultura dari Insil, Pilih Berhemat dan Patuh Prokes Covid-19

“Tapi tanaman jahe juga butuh waktu yang cukup lama sekitar 8 sampai 12 bulan baru panen, makanya lagi-lagi berhemat menjadi satu-satunya cara,” kata Eding.

Permintaan rendah terhadap bawang daun pasti berdampak pada anjloknya harga, sementara biaya pengolahan begitu tinggi, akhirnya Hendri memilih belum memilih jenis holtikultura ini.  Apalagi, bawang daun umur panen hanya 70-75 hari setelah itu, rentan rusak dan tidak laku dipasaran.

Hendri tinggal di desa berjarak sekitar 83.000 km dari pusat Kota Lolak ibukota Bolmong, dan secara geografis desa ini terdapat sungai Koito dan Gunung Paya-Paya. Desa itu luasnya tak begitu besar, hanya terdapat 6 dusun dan 12 RT, dengan jumlah penduduk Laki-laki  542 dan perempuan 535 T, dari total 1,077 jiwa.

Sedangkan mata pencarian utama penduduk desa itu adalah memilih menjadi petani 350 jiwa dan pedagang 21 orang dan PNS ada 31 orang

Kondisi sektor pertanian saat ini masih tertekan, bila bicara lebih khusus di subsektor holtikultura. Budidaya sayur-sayuran, seperti di Kabupaten Bolaang Mongondow harga di tingkat petani rendah dan kurang laku di pasar.

Lagi-lagi Eding dan petani holtikultura lainnya harus mencari daya untuk tetap eksis di ladang. Bantuan dari pemerintah hanyalah stimulan agar warga tetap menjalankan aktivitas ditengah wabah Covid-19 yang belum berkesudahan.

“Uluran tangan dari pemerintah tentu tak seberapa, sebagai warga tentu tidak bergantung dari situ, selain kita sendiri yang harus lebih kreatif agar tetap bertahan dimasa pandemi ini,” kata Hendri.

Terkadang Eding memanfaatkan waktu senggang dengan memancing di lautan. Diapun harus menempuh jarak perjalanan sekitar 1-1,5 jam agar sampai di  pesisir. Hitung-hitung sebagai refresing ditengah sengatnya matahari di ladang, juga hasil hobi memancing cukup untuk penghematan.

Namun, Ia lebih sering jalan Hendiri ketimbang mengajak teman. Eding memilih sendirian menghindari kontak dengan orang lain, masker dan hand sanitizer, menjadi bahan wajib selain alat pancing, umpan dan dofoma (bekal).

Diakhir wawancara dengan pria dengan cirri khas kumis dan berjenggot tipis ini berharap Covid-19 secepatnya senja kala dan berakhir total agar aktivitas warga terutama petani kembali normal, harga jual hasil holtikultura akan lebih baik, sehingga petani bisa makmur sentosa.

Tapi informasi berselweran dimedia Covid-19 kembali menggila, Eding pun akan tetap taat dengan Prokes 3M, sebagai cara mengubah perilaku dimasa pandemic. Ia dan keluarga kecilnya hanya pasrah tapi tetap ikhtiar.

“Mau bagaimana lagi, Covid-19 bukan barang atau makhluk tampak yang bisa diusir. Tapi dengan penularan menakutkan itu, maka penting kita mengubah perilaku, dengan taat pada Prokes 3 M,” tutup Eding, yang menambahkan sebagai warga punya kewajiban kampanyekan ingat pesan ibu taati 3M.

 

Penulis: Fahmi Gobel

Comment