by

Foto Korban Anak Berseliweran di Medsos, YLBH Pihak: Ancaman UU ITE Pidana 6 Tahun Penjara

mediatotabuan.co, Kotamobagu — Beberapa hari terakhir banyak pengguna media sosial dengan sengaja menguplod foto seorang anak dibawah umur telah meninggal dunia diduga korban kekerasan orang tuanya. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Pihak menegaskan itu melanggar undang undang ITE.

Rudy Satria Mandala Bonuot SH, seorang lawyer muda dari YLBH Pihak mengatakan wajar bila kita bersimpati terhadap korban kekerasan apalagi anak dibawah umur. Namun rasa simpati itu harus ada batasannya dengan memperhatikan aturan dan etika yang berlaku.

“UU Informasi dan Transaksi Eleketronik sangat jelas, bila ada ancaman bagi pengguna medsos mendistribusi atau mentransmisikan informasi elektronik,” kata Satria, Jumat (20/05/2022) kepada media ini.    

Satria mengatakan, Pasal 45 ayat 1 Jo Pasal 27 ayat 1 UU ITE nomor 19 tahun 2016 perubahan UU nomor 11 tahun 2008, ancaman bagi siapapun yang melanggarnya diancam dengan pidana penjara 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp 1 Miliar.

“Konten sadis seperti korban kecelakaan dan korban pembunuhan sadis yang disebarluaskan adalah juga termasuk dari pelanggaran kesusilaan, apalagi korban atau pelakunya masih dibawah umur, justru dimana rasa simpati kita,” kata Satria.

Karena kata Satria, konten yang terdistribusi di media sosial tidak hanya dapat diakses oleh orang dewasa tetapi juga remaja bahkan anak-anak dibawah umur. Hal ini dapat mempengaruhi mental dan psikologis anak ketika melihat konten-konten seperti itu.

“Artinya bukan hanya pihak keluarga korban yang menerima dampak negatifnya, tapi siapapun terlebih anak-anak bila melihat konten seperti itu pasti ada pengaruh psikologi,” kata Satria.

Dijelaskan, konten-konten  seperti itu juga masuk kategori data pribadi atau foto seseorang harusnya tidak bisa disebarluaskan tanpa persetujuan dari korban atau keluarga korban. Kalaupun ada rasa sayang terhadap korban, lebih baik kita doakan, saja dan kejadiannya biarlah itu menjadi urusan aparat penegak hukum.

“Atau bila bermedsos yang seperlunya saja. Jangan tanpa disadari justru unggahan kita yang menjerumuskan ke penjara, padahal kita hanya bersimpati. Makanya rasa simpati itu harus ada batas,” imbuhnya.

“Dampak sosial juga tidak bisa disepelekan, sebab dengan tersebarluasnya foto, video seperti korban pembunuhan sadis dapat memicu ketegangan ditengah masyarakat serta adanya kesan profokasi yang memicu adanya konflik,” kata Satria.

Ia juga meminta aparat penegak hukum agar menelusuri para pengguna medsos yang hanya serampangan menyebar informasi yang bisa melanggar UU ITE.

“Efek jera juga bagian dari edukasi kepada masyarakat, bahwa biarpun medsos adalah akun pribadi tapi setelah ada postingan itu sudah menjadi konsumsi umum di dunia maya yang tanpa batas, ruang dan waktu. Ingat ada UU ITE,” kata Pengacara muda berkepala plontos ini.

Sejak Kamis kemarin banyak berseliweran foto anak dibawah umur yang diduga korban kekerasan hingga meninggal dunia. Informasi dirangkum, seorang bocah asal Kotamobagu, meninggal dunia diduga akibat dianiaya ibu tiri dan nene tiri juga ayah kandungnya. Peristiwa itu sempat viral di media sosial. Dugaan penganiyaan terjadi di Provinsi Gorontalo.

Keluarga korban di Kotamobagu mendapat kabar bila bocah itu meninggal dunia pada 18 Mei 202. Keluargapun langsung menjemput jenazah untuk dikuburkan di Kotamobagu, Kamis kemarin.

Namun, keluarga melihat kondisi jenazah 5 tahun ini, terdapat ada luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Adanya kejanggalan tersebut pihak keluarga melaporkan ke aparat Kepolisian. Akhirnya para terduga pelaku langsung diamankan Polisi.

Dikutip Teras Gorontalo, Sabtu 20 Mei 2022, Kasat Reskrim Polres Gorontalo Iptu Mohammad Nauval Seno, STK, SIK telah membenarkan peristiwa penganiayaan yang mengakibatkan seorang meninggal dunia. 

Kedua pelaku ibu tiri dan nene tiri, serta ayah kandung korban, kini sudah di bawa ke Kota Gorontalo untuk pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa barang bukti pun sudah diamankan dari sebuah kos-kosan di Gorontalo, dimana dugaan penganiayaan hinga menghilangkan nyawa korban anak dibawah umur itu terjadi.

 

Penulis: Fahmi Gobel

Comment