Di Hari Pahlawan, YSK Ajak Anak Muda Karena Berhutang Masa Depan dari Para Pejuang

“Kita berhutang masa depan, anak muda hari ini tidak lagi harus berjuang dengan senjata, tetapi dengan pengetahuan, kreativitas, dan karakter,” Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus.

Pagi ini udara sekitar masih terasa dingin, kabut tipis masih bergelayut di langit Manado. Nampak berderet barisan pasukan upacara berdiri tegak di halaman Taman Makam Pahlawan (TMP) Kairagi.

Senin setiap 10 November 2025, bangsa ini merefleksikan nilai perjuangan di TMP. Wewangian alami dari aroma bunga melati dihirup dengan semangat perjuangan.

Bunga-bunga itu bertaburan di pusara para pejuang, seolah mengembuskan pesan bisu dari masa lalu perjuangan belum usai.

Di barisan depan, Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling, berdiri tegap dengan balutan seragam dinasnya, memimpin barisan-barisan tegap atas perintah pemimpin upacara.

Tak hanya dengan barisan nyata peserta, tapi seakan tatapan YSK tertuju di jajaran nisan yang berderet rapi, sebagian tanpa nama, sebagian sudah kusam dimakan waktu.

Pagi dalam keheningan, terpancar semangat yang tak pernah padam. Upacara peringatan Hari Pahlawan Nasional 2025 itu bukan sekadar ritual tahunan.

Pejabat Forkopimda Sulut dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay, Sekprov, serta jajaran Pemprov Sulut, hadir. Gubernur Yulius memimpin penghormatan dan tabur bunga dengan khidmat.

Momen sederhana, seakan menghidupkan kembali semangat juang yang diwariskan oleh para pahlawan. Kali ini YSK mengajak merebungkan kembali nilai perjungan 66 tahun lalu.

“Ini adalah waktu untuk kita merenungkan kembali tanggung jawab sebagai penerus perjuangan mereka,” ujar Gubernur Yulius usai tabur bunga.

Mantan Kopassus ini suaranya tak lantang, namun lebih tenang. Tersirat tekad yang ia ingin tunjukan, mengajak menunduk sejenak di depan nisan seorang pejuang yang semua ia dikenal.

“Kepada mereka kita berutang masa depan,” kata YSK mengurai makna kepahlawanan yang harus diterjemahkan dalam kerja dan semangat.

Kata-kata YSK memiliki makna mendalam. Kepada jajarannya ia ingin merenungkan bila sejarah bukan hanya romantisme, tapi ada nilai pengabdian.

Nah, untuk anak muda Sulut, YSK paham kalau mereka kini tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan dunia digital, harus dimanfaatkan menjadi pelanjut semangat juang.

YSK-Victor Mailangkay dalam visi mereka Menuju Sulawesi Utara Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan, tiga kata yang familiar, namun teriring misi poin kedua meningkatkan kualitas SDM.

Yulius Komaling berharap, anak muda harus menjadi pelanjut perjuangan dengan cara baru: melalui pendidikan, inovasi, dan tanggung jawab sosial.

“Anak muda hari ini tidak lagi harus berjuang dengan senjata, tetapi dengan pengetahuan, kreativitas, dan karakter. Mereka harus menyalakan kembali api perjuangan,” tegasnya.

Gubernur Yulius juga mengingatkan bahwa cita-cita para pahlawan tidak hanya soal kemerdekaan, tetapi juga kesejahteraan dan keadilan sosial.

Generasi penerus harus menatap masa depan dengan keberanian yang sama, meski medan juangnya kini berbeda.

“Perjuangan hari ini adalah bagaimana membangun masyarakat yang sejahtera, berpendidikan, dan bermartabat, sebagai penghormatan tertinggi kepada para pahlawan,” ujarnya lagi.

Langit Manado mulai cerah ketika upacara selesai. Di antara nisan-nisan yang tenang, bunga-bunga tabur berwarna merah dan putih berserakan di atas tanah.

Ada pesan yang tertinggal, bahwa perjuangan tidak berhenti di medan perang, ia terus hidup di ruang-ruang pendidikan, di ladang-ladang kerja, di kampus.

Bahkan di media sosial tempat generasi muda membentuk opini dan nilai-nilai baru, semangatnya harus ditabur kembali di hari Pahlawan.

Gubernur Yulius menutup pesannya, bilamana Pemerintah Provinsi Sulut akan menjaga dan melanjutkan nilai perjuangan para pahlawan.

Capaian pembangunan, harus ditingkatkan, serta mempercepat kemajuan daerah demi kesejahteraan rakyat Sulut. Ia kembali menekankan dukungan dan partisipasi anak muda.

“Kita butuh generasi yang tidak hanya bangga pada sejarah, tapi juga berani menulis sejarah baru untuk Sulawesi Utara,” ujarnya.

Di TMP Kairagi, keheningan kembali turun. Di bawah rindangnya pohon-pohon, suara langkah-langkah peserta upacara perlahan menjauh.

YSK berharap, langkah bole jauh dari puasara pahlawan, namun di dada mereka semangat tetap menyala. Semangat untuk melanjutkan perjuangan, dengan cara yang berbeda.***

Comment