Ada deretan bangunan terbuat dari bekas kontainer, di pingir jalan masuk area PT. JRBM Blok Lanut.
Jalur ini juga bekas tambang, dan jalan itu menuju titik-titik penting Blok Lanut.
Kini ditempat itu tinggal puluhan karyawan PT JRBM, untuk melaksanakan reklamasi pasca tambang dan menjaga habitat yang berangsur mulai kembali.
PT JRBM Blok Lanut, menyodorkan data, sejak 2004 sampai 2019 adalah fase operasi produksi, kemudian di tahun 2020 sampai 2024 merupakan fase pasca tambang.
Sedangkan 2025 sampai 2027 fase ini adalah perpanjangan pasca tambang yang sempat terhenti karena pandemi oleh wabah Covid-19 tahun 2019 dan puncaknya hingga di 2020.
Katanya PT. JRBM berkomitmen mengembalikan fungsi hutan dan menyediakan rumah baru bagi satwa yang dilindungi yang sempat terhempas.
Dari dari total luas bukaan lahan tambang sekitar 182.15 ha dan telah mereklamasi 182.07 ha lahan itu, secara kuantitaif sudah 99,63 persen direklamasi.
Dan sisahnya masih ada kantor kontainer berdiri sebagai tempat tinggal bagi para karyawan yang melanjutkan program penghijauan kembali.
Akankah kondisi yang dulunya hancur karena pengolahan tambang emas akan sesuai dengan visi PT J Resources Asia Pasifik, Tbk (J Resources).
Visi PT JRBM yaitu perusahaan pertambangan yang inovatif yang bersemangat terhadap Pertumbuhan, Keberlanjutan, serta Reputasi.
Kami mendengar penjelasan demi penjelasan di bawah kanopi. Tempat berteduh yang sejuk, nyaris tak ada sinar matahari yang tembus.
Di bawah pepohonan rindang dengan kicauan burung, ternyata dulu lokasi ini pernah gundul tapi tak lagi nampak bekasnya.
Tempat itu menjadi hutan lagi, pohon-pohon berdiameter sekitar 20-30 cm, sudah tinggi menjulang dengan semak belukar dibawahnya, benar-benar tempat itu kembali menjadi hutan.
Usai ngopi dititik awal kumpul itu, kami diantar ke sebuah lahan, disana sudah ditanami pohon buah-buahan.
Lokasi ini dinamakan office EH, tapi tak ada lagi bangunan, semuanya sudah ditanami buah-buahan.
Ada pohon Nangka, Matoa, Rambutan, Mangga dan lainnya. Ternyata dipersiapkan untuk makanan satwa liar.

Tapi, tanah bekas tambang di Lanut bukanlah tanah yang ramah bagi kehidupan.
Yang tersisa hanyalah hamparan bebatuan yang hancur, lahan terbuka tanpa naungan, dan panas matahari yang terasa membakar kulit.
Disiang hari, terik seakan tak memberi ampun. Debu beterbangan, menutup warna asli tanah seakan benar-benar sudah kehilangan kesuburannya.
Ketika hujan turun, tantangannya akan berubah. Dipastikan jalanan menjadi lumpur pekat.
Bahkan kendaraan double gardan harus berjuang keras, meraung, dan terseok-seok agar bisa menaklukan lintasan. Di tengah kondisi sekeras itu, satu pertanyaan: akankah tanaman bisa tumbuh kembali di sini?
Pak Idi, tenaga ahli yang terlibat langsung dalam reklamasi Blok Lanut, menjelaskan bahwa kunci pemulihan lahan bukan sekadar menanam.
Melainkan menciptakan kembali “rumah” bagi akar tanaman. Sebab, tanah bekas tambang nyaris kehilangan unsur hara alaminya.






Comment