Upaya PT JRBM Suburkan Lahan Kritis Bekas Tambang Blok Lanut, Jaga Hunian Spesies Endemik Langka Sulawesi

Menjawab tantangan itu, salah satunya adalah pupuk kompos blok yang dicetak menyerupai batu bata.

Bahan dasar pupuk ini hanya dari kotoran sapi yang diolah, dicampur air secukupnya, lalu dicetak menggunakan cetakan sederhana.

Di bagian tengahnya dibuat lubang, tempat benih ditanam.

“Media ini menjadi alternatif karena mampu menggantikan fungsi tanah subur yang telah hilang,” kata Pak Idi.

“Dan hasilnya tanaman mulai tumbuh, akar mulai menembus media,” ungkap Pak Idi yang ternyata Magister Kehutanan UGM ini.

Selain kompos blok, juga memanfaatkan sabut kelapa sebagai media tanam organik, mampu menyerap air hingga tujuh sampai delapan kali lipat dari beratnya sendiri.

Sifat ini membuatnya sangat efektif menjaga kelembapan tanah, sekaligus memberi ruang udara yang cukup bagi akar.

Nah, bagaimana dengan kontur yang bertebing? Kami di bawa ke lokasi yang bertebing di PIT (lokasi penambangan terbuka atau galian untuk ekstraksi material) Rasik.

Rasanya tak mungkin ada orang yang mampu menanam disini hanya dengan berbekal peralatan manual. Tapi kami tercengang, tebing itu benar-benar mulai ditumbuhi pohon. 

Pak Idi tak kehilangan akal bagaimana hadapi tebing-tebing yang susah dijangkau.

Ia membuat tali dari bahan menyerap air yang kerap digunakan dalam budidaya hidroponik maupun sebagai campuran tanah untuk meningkatkan aerasi (proses penambahan udara atau oksigen (O2cap O sub 2𝑂2) ke dalam air, tanah, atau zat cair lainnya).

Dan di lahan yang dulu keras dan tandus, serta bertebing material sederhana ini menjadi penopang.

Di lereng-lereng terjal, tentu tak mudah menancapkan bibit ke tanah dan nyaris tak ada ruang, karena mustahil juga tangan mampu menjangkau menelisik lobang kecil untuk ditanami, kecuali dengan peralatan canggih dan lengkap.

PIT Riska sebelum sebelum direklamasi (atas) sesudah di reklamasi (bawah). (sumber: PT JRBM)

Tapi dari kesulitan inilah kemudian melahirkan cara baru. Tim reklamasi merangkai tali khusus dari bahan yang mampu menyerap air.

Pada tali itulah bibit pohon beringin diikat. Tali kemudian dijulur dari atas tebing hingga ke bawah, membentuk jalur bagi bibit tanaman.

Pekerjaan ini tak mudah, keselamatan jiwa pekerja menjadi hal paling utama.

Tapi teknik tali tadi akhirnya para pekerja mengatur jarak dan posisi, memastikan setiap bibit mendapat ruang untuk bertahan dan tumbuh di tebing itu.

Jenis tanaman Beringin dipilih, karena pohon ini dikenal tangguh, mudah beradaptasi, dan mampu tumbuh di berbagai media.

Akar-akar gantungnya diharapkan kelak menemukan celah batu, mencengkeram tebing, dan mengikat kembali bebatuan yang pernah terbelah.

Comment