Teknik ini bukan metode umum. Bahkan disebut sebagai yang pertama diterapkan di Indonesia, dan lahir dari tantangan reklamasi di Lanut.
Sebuah inovasi yang muncul dari Pak Idi, yang pernah menjadi tim penghijauan di Timor Timur alias Timur Leste sekarang.
“Setiap sudut dipastikan memiliki tutupan, baik pepohonan maupun jenis rumput kacang. Prinsipnya sederhana tak ada area yang dilewati,” kata Pak Idi, suami Kekek (gadis) dari Modoinding Kabupaten Minahasa Selatan itu.
Sementara itu, di bagian lahan yang didominasi batuan keras, tim membuat pupuk kompos berbentuk bata sebagai media tanam.
Di atas kompos itulah rumput jenin kacang ditanam. Fungsinya bukan hanya menutup lahan, tetapi merayap, menahan erosi, dan menciptakan lapisan awal bagi tumbuhan lain untuk menyusul.

Rombongan kembali susuri jalanan bebatuan. Kami tiba di PIT Riska. PIT yang konon adalah terbesar di Lanut. Lagi-lahi kami tercengang, ada tebing dan terhampar berupa jaring.
Ternyata itu adalah jaring cocopeat, yang lebih tepat disebut cocomesh atau coir net.
Material ini berbentuk jaring, terbuat dari serat sabut kelapa diolah menjadi cocofiber.
Jaring ini dirancang khusus sebagai solusi alami dan ramah lingkungan untuk pengendalian erosi, stabilisasi tanah, dan rehabilitasi lahan.
Saya sendiri baru melek, ternyata dari tanah berbatu yang panas menyengat, dari lumpur yang menahan laju kendaraan, Lanut perlahan berubah.
Dan reklamasi bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan proses mengembalikan ke fungsinya.
Bahwa di lahan paling keras sekalipun, masih bisa diberi kesempatan untuk tumbuh kembali, kuncinya satu, punya kepedulian.
Perlakuan reklamasi di PIT Rasik dan Riska nyaris sama. Dan kedua PIT besar itu sudah 100 persen ditanami kembali.
Tapi, kami disuguhkan pemandangan lain, bahwa di luar wilayah konsesi JRBM banyak hutan telah dibabat, sangat nampak pertambangan Illegal yang telah merusak hutan dengan bekas lindasan mesin-mesin besar (eksavator).






Comment