Upaya PT JRBM Suburkan Lahan Kritis Bekas Tambang Blok Lanut, Jaga Hunian Spesies Endemik Langka Sulawesi

Beberapa titik reklamasi telah kami datangi dan cukup untuk memberi gambaran.

Namun rombongan kemudian diajak menuju satu lokasi yang semuanya bermula adalah area yang menjadi pusat produksi kompos blok dan pembibitan.

Ada bangunan-bangunan kecil tempat tinggal sementara tim reklamasi yang dipimpin Pak Idi. 

Namun siapa sangka, lokasi ini dulunya adalah jantung industri tambang. Kata mereka, ada bangunan-bangunan besar dari rangka baja masih berdiri kokoh.

Di dalamnya, tersimpan mesin-mesin pengolahan emas berteknologi tinggi.

Inilah bekas pabrik pengolahan emas Blok Lanut, tempat batuan diolah, dipisahkan, dan dimurnikan dan emaslah hasilnya.

Lokasi pabrik sebelum di reklamasi (atas) sesudah di bongkar dan ditanami pepohonan (bawah), juga lokasi pembibitan dan pembuatan pupuk kompos. (foto: PT JRBM)

Waktu masih beroperasi, pengolahan emas pasti memanfaatkan bahan kimia tertentu untuk mengekstraksi logam mulia.

Salah satunya adalah senyawa sianida, selain itu ada juga penggunaan bahan kimia pendukung lain dalam proses pemisahan dan pengolahan air limbah.

Isu tentang limbah tambang pun kerap melekat pada lokasi ini. Konon, di sinilah sisa-sisa proses industri pernah bersarang.

Ada stigma yang sulit dilepaskan dari setiap bekas pabrik tambang.

Tapi justru memunculkan rasa heran bagi saya. Apakah di sekitar bangunan baja dan mesin-mesin canggih dan mungkin ber ton-ton bahan kimia, tanaman akan tumbuh?.

Karena yang nampak di tempat itu, ada bibit-bibit pohon tertancap di tanah, berdiri di atas media tanam kompos blok yang sebelumnya hanya dikenal sebagai “tanah mati”.

Daunnya tetap hijau, tumbuh diatas tanah bekas industri emas.

Padahal, area ini dulunya identik dengan bahan kimia dan proses ekstraksi, kini menjadi ruang pembibitan.

Tempat yang dahulu berfungsi mengolah emas, kini mengolah kehidupan pepohonan.

Reklamasi di kawasan bekas pabrik ini juga telah dilakukan. Pasti perlakuannya cukup ketat karena pernah ada pengelolaan limbah.

Sehingga stabilisasi tanah, netralisasi area bekas pengolahan menjadi bagian dari proses sebelum penanaman dilakukan.

Pak Idi (baju biru) bersama tim saat mengolah kotoran hewan membuat pupuk kompos. Inzert kompos blok. (sumber: PT JRBM)

Karena di tanah ini pasti tak akan menerima tanaman begitu saja, Adakah trik lain Pak Idi, mempersiapkan lahan dan tanaman agar aman dan mampu mendukung pertumbuhan?.

“Kompos blok berbahan dasar kotoran sapi, di medan ekstrem yang sulit ditanami, bahan ini dipilih karena sifat alaminya yang kaya unsur organik dan mampu menghidupkan kembali tanah yang telah kehilangan kesuburan,” jelas Pak Idi.

Comment