Catatan: Fahmi Gz
Kicauan burung srigunting menyambut langkah kami siang itu.
Tak ada lagi deru mesin, tak terdengar raungan alat berat, apalagi dentuman blasting yang dulu menggema di kawasan Blok Lanut, Bolaang Mongondow Timur.
Sekitar 25 menit kemudian, suasana yang hening itu justru dipecah oleh suara yang jauh lebih syahdu, kumandang adzan Dzuhur, menggema di tengah hutan.
Sulit membayangkan, kawasan yang dulu menjadi salah satu pusat aktivitas tambang emas milik PT J Resources Bolaang Mongondow, kini berubah menjadi ruang sunyi yang menenangkan. Kami bertiga tiba disini dan akan bermalam menikmati suasana hutan.
Pukul 11.35 WITA, kami bertiga tiba di sebuah camp kecil, dihuni sekitar 20 orang.
Perjalanan menuju lokasi tak mudah, melewati jalur yang dulunya menjadi akses utama kendaraan tambang.
Setelah sopir melapor di pos penjagaan, portal pun dibuka oleh petugas. Tanggal itu, 9 Maret 2026, menjadi awal pengalaman yang tak biasa.
Tak berapa lama tibai, kami bergegas mengambil air wudhu. Ada Sebuah mushola kecil berdiri sederhana, namun terasa begitu hidup – ada hawa ramadhan di sini.
Awalnya, saya mengira suara adzan tadi berasal dari desa lingkar tambang. Ternyata, dari sinilah ia berkumandang—dari jantung hutan yang perlahan dipulihkan, dan menjulang pohon rindang, serta berhias tumbuhan jenis pakis yang meninggi.
Usai sholat, obrolan ringan mengalir bersama para karyawan. Mereka bukan lagi operator alat berat atau teknisi tambang, melainkan bagian dari tim reklamasi—orang-orang yang kini bertugas mengembalikan fungsi hutan yang pernah “dipinjam” oleh industri.
Menurut data yang dipublikasikan oleh J Resources, reklamasi pascatambang merupakan kewajiban utama perusahaan, termasuk penanaman kembali vegetasi, pengelolaan tanah, hingga pemantauan ekosistem secara berkelanjutan.
Di Lanut, proses ini bahkan disebut telah mencapai sekitar 99 persen untuk tahap penanaman, dan kini memasuki fase perawatan.
Yang paling mengejutkan justru bukan angka itu, melainkan suasana Ramadhan yang terasa begitu hidup.
Di tengah hutan, jauh dari permukiman, nuansa ibadah justru terasa lebih pekat.
Padahal, rata-rata penghuni di sini, jauh dari keluarga, ada yang berasal dari Jawa, Manado dan sekitar Boltim dan Kotamobagu.
Tapi giliran berkumpul berbuka puasa, rasa kekeluargaan begitu terasa. Saya yakin, sesekali mereka rindu akan keluarga, tapi karena suasananya enak dan bersahaja, kerinduan itu bisa ditunda hingga lebaran bersama.
Kamar yang kami tempati terbilang “cukup bagus” untuk ukuran camp—tersedia air hangat dan dingin.
Setelah Ashar, suasana kembali tenang. Tak ada hiruk pikuk, hanya suara alam yang perlahan mengambil alih ruang.
Menjelang Magrib, para karyawan mulai berkumpul di ruang meeting. Aneka hidangan sederhana telah tersaji: lalampa, lampu-lampu—kuliner khas Sulawesi Utara—serta kelapa muda yang menyegarkan. Saya memilih menyeduh kopi hitam, membiarkan aromanya menyatu dengan udara hutan yang lembap, dan sinar matahari perlahan hilang.
Hampir pukul 18.00 WITA, kami menengadah dalam doa. Wajah-wajah penuh riang menunggu detik berbuka. Dan masing-masing mengambil sesuai selera, sambil ada canda dan tawa, riang berbuka di tengah hutan yang sepi dari cerita perkotaan saat Ramadhan.
Lalu, adzan Magrib kembali berkumandang—kali ini dilantunkan oleh salah satu karyawan.
Hari itu, sudah tiga waktu sholat berjamaah kami lalui di tempat ini.
Malam datang perlahan. Lampu-lampu camp menyala, menerangi jalan kecil yang diapit pepohonan. Suara burung bersahutan, diselingi riuh katak dan “rie-rie” yang tak henti bernyanyi. Bulan tak terlihat—mungkin tertutup rapat oleh “kanopi” hutan yang mulai pulih.
Sholat Isya dilanjutkan dengan Tarawih dan Witir. Mushola kecil itu kembali penuh.
Bila saya berada di kamar, langkah kaki menuju tempat ibadah terdengar jelas—mengingatkan pada suasana kampung masa kecil, ketika Ramadhan selalu identik dengan keramaian menuju masjid.
Kini, suasana itu hadir kembali—di tempat yang dulu hanya dipenuhi kebisingan tambang.
Bayangkan, beberapa tahun lalu, kawasan ini dipenuhi lalu lalang truk besar. Alat berat bekerja tanpa henti. Gunung diratakan, batu dihancurkan, bahkan cekungan-cekungan baru terbentuk menyerupai danau kecil akibat aktivitas eksploitasi emas.
Namun hari ini, narasinya berbeda. Pepohonan tumbuh kembali. Di beberapa titik, batangnya telah mencapai diameter sekitar 20 sentimeter—menandakan reklamasi bukan sekadar formalitas, tetapi proses yang benar-benar berjalan sejak hampir dua dekade lalu.
Camp tempat kami menginap pun dulunya adalah bukaan awal—gerbang masuk utama operasional tambang. Kini, kawasan itu telah direklamasi dan menjelma menjadi hutan sekunder yang rimbun.
Malam semakin larut. Kami duduk di tengah jalan camp, menikmati kesunyian yang justru terasa hidup. Alam liar, rupanya, tak pernah benar-benar sunyi. Karena suara berbagai jenis burung hadir bersahutan.
Seorang karyawan bergabung, membawa cerita yang sedikit mengubah suasana. Ia mengaku sering melihat monyet Sulawesi—Yaki—melintas di sekitar camp. Bahkan, beberapa hewan peliharaan karyawan seperti kucing dan anjing pernah hilang tanpa jejak.
“Yang pernah saya lihat, ular piton sebesar betis orang dewasa,” ujarnya pelan.
Cerita itu membuat kami saling pandang. Di balik ketenangan yang terasa, hutan ini tetaplah rumah bagi kehidupan liar yang perlahan kembali.
Sebelum masuk kamar beristirahat, saya melihat ada Mobil jenis double Kabin tiba dari dalam hutan. Ternyata yang turun dari mobil itu beberapa petugas keamanan. Memang, di sini, PT JRBM, menggandeng TNI dan Polri dalam pengamanan kawasan.
Setiap saat, selang beberapa jam siang ataupun malam, patroli masih digalakan. Karena kawasan ini masih tanggungjawab PT JRBM yang masuk dalam waktu reklamasi. Sehingga, belum ada pihak luar yang bole masuk sembarangan.
Menurut cerita Pak Yusri, sempat ada kejadian pihak keamanan mengamankan beberapa warga yang coba masuk ke dalam kawasan eks tambang PT JRBM. Mereka rupanya mengambil material sisa-sisa tambang.
“Tapi kami lakukan jalan damai dengan cara mengingatkan jangan lagi lakukan itu, dengan membuat pernyataan tertulis. Dan dilakukan dihadapan Sangadi (kepala desa) warga yang bersangkutan. Dan sudah dua kali kejadian dengan orang berbeda,” kata Pak Yusri.
Ramadhan di Lanut bukan sekadar pengalaman spiritual. Ia adalah potret kontras—antara masa lalu yang riuh oleh eksploitasi, dan masa kini yang perlahan dipulihkan.
Di tempat ini, adzan kini menggantikan dentuman. Dan hutan, akhirnya, kembali bernapas.
Saat sahur tiba, kami dibagikan makanan, masing-masing dapat satu nampan. Segelas kopi jadi penutup sebelum waktu imsak tiba.
Tak lama lagi, adzan Subuh tandai sholat berjamaah. Kami pun kembali ke mushola, sholat berjamaah. Setelahnya, saya keluar Musholah, dan berdiri di tengah-tengah pohon kayu yang menjulang.
Salah satu Manager disitu, yang akrab disapa Pak Yusri, memilih menemariku saat itu. Ia menceritakan teknis reklamasi. Namun, proses ini nanti saya akan tuangkan pada tulisan berikutnya.
Hanya saja, ia mengatakan sesekali.Yaki terlihat di sekitar camp, apalagi kalau buah m Mangga di belakang tempat tinggal mereka ini sudah mulai matang, Yaki-Yaki itu akan rajin ke sini.
“Buah Mangganya masih muda, makanya mungkin mereka masih berada di tempat lain. Biasanya kalau Manggar sudah mulai matang, mereka ada di pohon-pohon sekitar Camp ini,” kata Pak Yusri, sembari menunjuk pohon Mangga, yang tajuknya sudah menutupi genteng bangunan.
“Nanti pagi bole kunjungi ke lokasi yang ada pohon nangka sudah berbuah,” kata Pak Yusri lagi.
Kami pun berpisah. Saya kembali ke kamar karena hutan mulai terang, sinar matahari sudah menembus antara dedaunan.
Sekitar Pukul 08.00 WITA, kami diantar ke sebuah titik ada pohon-pohon buah. Saya melihat ada buah Nangka. Pohonnya, ada di pinggi jurang. Kami menuju ke situ, dan ternyata ada tiga buah Nangka yang tergeletak di tanah.
Kelihatannya, buah-buah ini di petik dengan cara memutar. Bukan karena manusia. Kalau di petik orang, pasti menggunakan pisau atau parang. Apalagi buah nangka cukup besar, berdiameter sekitar 15 sentimeter.
Dan pohon Nangka ini, sepetinya ada bekas garukan kuku. Kami pun berkesimpulan, pasti ini ulah si Yaki.
Setelahnya, kami kembali ke Camp, Jam hampir Pukul 10.00 WITA. Kami pun berpamitan kepada Pak Yusri dan karyawan lain.
Yang pasti suasa di sini enak untuk sekedar menenangkan diri, jauh dari riuh kota, dan terhibur dengan suara merdu kicauan burung. Tapi, harus hati-hati, karena ular Piton juga nyaris terlihat di sini.***






Comment