“Setiap proposal harus melalui seleksi ketat, mulai dari kelayakan metodologi hingga kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakat,” tambahnya.
Moharto menegaskan bahwa arah penelitian dosen UDK tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi juga pada kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah, khususnya di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR).
“Penelitian yang dilakukan diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah,” kata Muharto lagi.
Dalam konteks nasional, hibah penelitian dari BIMA merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi.
Skema ini mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menghasilkan solusi atas berbagai persoalan, mulai dari ekonomi, sosial, hingga lingkungan.
Sehingga, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan agen perubahan sosial.
Keberhasilan delapan dosen UDK ini juga mencerminkan peningkatan kapasitas institusi dalam tata kelola penelitian, termasuk penyusunan proposal, manajemen riset, serta publikasi ilmiah.
Ini bukti bahwa UDK mulai menempatkan posisi sebagai perguruan tinggi yang berkembang di tingkat regional, juga berkontribusi dalam agenda pembangunan nasional berbasis riset dan inovasi.
Diketahui pada 2025, 15 dosen di UDK juga mampu tembus hibah penelitian dari kementerian.***






Comment