CORONA MEMBAWA PERUBAHAN

Oleh: Sutarjo Paputungan, M.Pd.I

Corona siapa sangka kau membuat perubahan di Negeriku. Saat bulan Januari 2020, terdengar ramai dari berbagai media massa salah satunya dari sebuah siaran Radio RRI Pro 3 yang saya dengar saat perjalananku ke Kotamobagu.

Masih terngiang di benakku sampai saat ini ada tiga belas mahasiswa Unesa terjebak di Wuhan dalam rangka  kunjungan  belajar. Mereka tidak bisa kemanapun dan harus lockdown. Nah istilah Lockdown inilah untuk pertama kali kudengar di telingaku.

Apa itu lockdown? saya coba bayangkan bahwa mereka sudah tertutup sama sekali dengan dunia luar, artinya tidak lagi bebas  keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dari sinilah berita berkembang semakin banyak semakin tidak ada sebuah kepastian karena bertambah hari bertambah minggu pemerintah bahkan memberikan isu bahwa tidak mungkinlah Negeri Indonesia di hampiri virus Corona ini.

Memasuki pertengahan bulan Maret 2020, tepatnya ketika di sekolah baru  mengakhiri pelaksanaan penilaian semester genap untuk kelas IX dan tengah semester untuk kelas VII dan VIII, diumumkan dengan tiba-tiba di hari Senin 13 Maret 2020, anak-anak harus belajar di rumah.

Kebijakan pemerintah masih saya pikir acak-acakan dari berbagai lini dalam menghadapi si Corona ini, termasuk yang saya hadapi di sekolah kami. Dalam waktu singkat kami di sekolah menentukan langkah selanjutnya dalam menghadapi wabah yang tidak disangka-sangka ini.

Pertama mengubah pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran Online atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kebingungan ini membuat  pendidik terus mengasah semangat belajarnya. Mempelajari  sesuatu yang bahkan sangat baru bagi pendidik, seperti  memanfaatkan WhatsApp Group (WA group) kelas awalnya. Di WhatsApp inilah pertama kali bapak dan ibu pendidik di sekolah kami mengirim informasi dan tugas kepada peserta didik di rumah dengan berbagai cara.

Kemudian belajar dengan komunitas Google Classroom, Microsoft Office 365, Google Meet, Moodle, Edmodo, Quipper, Zoom, Webex, dan teknologi  lain pendukung pembelajaran. Walaupun hanya alat, teknologi mampu mengefektifkan pembelajaran daring. Para pendidik  mau tidak mau harus berusaha semaksimal mungkin untuk  belajar teknologi karena tidak ada cara lain untuk diterapkan dalam pembelajaran.

Pendidik hanyalah sebagai salah satu faktor penentu suksesnya pembelajaran daring. Banyak hal yang perlu diperbaiki dalam mengefektifkan pembelajaran daring. Gawai, koneksi internet, keterlibatan orang tua, dan masih banyak hal yang perlu dipenuhi agar pembelajaran berlangsung optimal.

Beberapa kebiasaan bulan pertama inilah yang mendorong kami terus belajar dan belajar melalui pelatihan, Workshop, Webinar, atau apapun bentuknya telah membantu pendidik untuk lebih mengenal teknologi, khususnya dalam pembelajaran daring. Tidak kalah menariknya dengan kesibukan orang tua peserta didik di rumah yang terus mengadu masalahnya dengan kami yang di sekolah.

Comment