Masih ingat dengan krisis moneter (krismon) di 90-an akhir?, era dimana Indonesia mengalami krisis keuangan, menimbulkan kepanikan karena harga aset mengalami penurunan nilai yang tajam. Banyak investor menjual aset atau menarik uang dari rekening bank karena nilai akan turun, kehancuran pasar saham, gagal bayar dan hura hara lainnya.
Keterpurukan ekonomi membuat banyak penguasaha kecil, menengah bahkan atas gulung tikar. Pemecatan karyawan di mana-mana, kerusuhan juga sempat melanda negeri ini, hingga pengalihan kekuasaan karena desakan masyarakat (aktivis mahasiswa) waktu itu yang kini dikenal aktivis 98.
Nah, salah satu orang yang terkena imbas karena krismon adalah Arifin Olii, pria yang kini menjadi politisi Partai Demokrasi Indonedosia Perjuangan (PDIP). Tak disangka, seorang korban krisis itu adalah pemegang palu keputusan di Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel)
Sosok pria itu kini berusia 56 tahun. Saat ini telah menjadi orang nomor tiga di tanah Totabuan Selatan. Jalan panjang menghantarkannya sebelum akhirnya memilih menjadi seorang politisi. Meski tak terbesit dalam pikiran menjadi Ketua DPRD Bolsel, nyatanya jabatan itu yang ia emban hingga periode 2024.
Adalah Arifin Olii. Pria kelahiran Pinolosian 1 April 1965 ini meniti karir dari bawah. Melaluinya dengan cerita panjang. Gonta-ganti profesi sebelum akhirnya memantapkan langkah menjadi politisi. Tak ayal, ia pun pernah merasakan bagaimana kehidupan seorang nelayan, petani, penambang, karyawan KKP, manager KFC sewaktu di Jakarta, pengusaha dan kini merupakan wakil rakyat.
Arifin merupakan seorang perantau. Bahkan kehidupan Jakarta, Papua dan Palembang tak asing baginya. Menurutnya, meninggalkan kampung halaman adalah sebuah tantangan untuk menguji mental seorang pemuda. Dari perjalanan-perjalanan ini ia bisa meraup pengalaman yang tak sedikit. Namun saat krisis moneter melanda Indonesia, mengantarkannya kembali ke kampung halaman. Kerusuhan merebak di Ibu kota. Waktu itu, ia manager KFC di Jakarta.
Sekembalinya dari Jakarta itu langsung merubah arah hidupnya, dimana menghadapi kenyataan hidup di kampung halaman tak lebih sulit daripada di perantauan. Arifin terbilang adalah seorang politisi yang cukup sukses saat ini. Sejak maju pertama kali pada pemilihan legislatif 2019 silam lewat PDIP: karinya langsung mentereng. 3263 suara diperoleh di Dapil Pinolosian bersatu. Alhasil, ia mampu merebut satu kursi DPRD dengan suara terbanyak se-Bolsel.
Sudah kurang lebih dua tahun ia menahkodai pucuk pimpinan DPRD Bolsel. Arifin menceritakan, dengan jabatan yang melekat pada dirinya ini tidak lantas kemudian mengubah watak aslinya yang selalu ingin hidup sederhana, tak suka marah-marah dan berbaik hati ke semua orang. Baginya, marah dan menyimpan dendam hanya membuat stres sendiri, terlebih mengeraskan hati. Namun, dibalik sikapnya itu, ia adalah seorang yang begitu disiplin dan tak main-main soal waktu.
“Setiap waktu begitu berharga. Dan kekuatan pemuda sebenarnya ada pada sikap disiplin. Dengan disiplin, seseorang mampu mewujudkan impiannya,” ujarnya.
Kata Arifin, selain tentu dukungan dari masyarakat Pinolosian bersatu, ia tak mungkin terpilih sebagai Ketua DPRD Bolsel tanpa memupuk sikap disiplin. Bahkan, setiap kali jika ada agenda paripurna atau rapat kerja di gedung rakyat itu, ia selalu datang lebih awal. Baginya, kepentingan rakyat adalah yang utama.
“Jadi ketua DPRD, selain merupakan dukungan dari masyarakat, ini sudah jalan Tuhan. Jabatan ini adalah amanah, dan harus dijalankan sebaik-baiknya,” tutupnya.
Penulis: Apriyanto Rajak
Editor: Fahmi Gobel






Comment