Di hutan Lanut inilah satwa endemik Sulawesi seperti Anoa (kerbau kerdil), Babirusa, Tarsius (primata terkecil), Monyet Hitam Sulawesi (Yaki), Kuskus Beruang dan beberapa jenis burung, yang populasinya pernah berada dipersimpangan nasib dan nyaris tak ada lagi tempat hunian yang aman.
Aktivitas pertambangan emas di kawasan hutan Lanut Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Provinsi Sulawesi Utara, sejak 2004 telah mengubah bentuk tanah, membabat pepohonan diubah seperti tanah tandus dan membuat sebagian habitat mengalami terfragmentasi (terbagi-bagi).
Sejak itu, muncul kekhawatiran akan terusirnya satwa-satwa langka dari hutan yang selama ratusan tahun menjadi ruang hidup mereka.
Perlahan “rumah” mereka berubah rupa menjadi gundul dengan lobang raksasa menganga.
Kemana lagi tempat pulang satwa-satwa berteduh, pepohonan rindang beralas semak belukar itu sudah menyusut.
Pada operasi tambang PT JRBM, kehidupan satwa liar seperti sepertinya jadi lebih langkah seakan menuju kepunahan.
Jenis Anoa kian tak terdengar, makin jauh lagi riuh Yaki di antara dahan, dan Babirusa, Tarsius, hingga Kuskus Beruang, juga burung-burung, seperti menyimpan satu pertanyaan yang sama: ke mana mereka harus pulang?.
Dengan dentuman suara seperti “bom” atau blasting alias peledakan, raungan alat berat membuat hutan sebagai rumah mereka perlahan menyempit.
Ada anggapan akan hilangnya satwa endemik Sulawesi, karena ruang untuk hidup mereka berujung lenyap dengan dalih ekplotasi tambang untuk pendapatan negara dan kesejahteraan.
Namun dibalik kecemasan itu ternyata masih menyimpan harapan.
Anggapan itu tidak benar-benar mati setelah mendengar dari penjelasan komprehensip saat pihak JRBM mengundang beberapa jurnalis mengunjungi Blok Lanut di Kecamatan Modayag.
Dari kunjungan itu juga diajak juga ke setiap titik yang konon pernah menyimpan sekitar 491.756 ounces (oz) cadangan batuan emas (data google), sebelum ekploitasi 2004 silam.

Dari sinilah, saya ingin ceritakan pernah ada ketakutan terhadap lobang raksasa karena seakan tak kembali semula.
Kata mereka ada danau-dana dibuat menyimpan cairan berbahaya, yang beredar luas, pasca tambang nanti akan sangat mengancam satwa dan kehidupan perkampungan sekitar.
Dari semua itu menjadi cerita “horor” bahwa Blok Lanut di Timur Indonesia ini, sudah rusak dan porak poranda.
Lebih ditakuti lagi dari cerita berseliweran bilamana sewaktu-waktu akan terjadi kebocoran danau buatan yang dipenuhi bahan kimia.
Akhirnya informasi lengkap mulai kami terima dari halaman camp kecil dari pemaparan pihak JRBM.






Comment