Saya mendoakan arwahmu di depan altar pengasingan. Diantara lipatan dinihari. Pada sepetak ruang yang berukuran 3x3meter di pinggiran kota. Sambil dipaksa sampai pada kategori khusyu kau simpuhkan pada seutas tali di pekat sepertiga malam; kau lantunkan bait ayat sembari meminta ampunan pada Sang Penggenggam hidup, agar segala dosa-dosamu terampuni—dosa masa lalu yang selalu kau rangkum melalui narasi-nyeri, atau barangkali sebuah kutukan yang selalu dipersalahkan.
Kau pernah bercerita ihwal tragedi manusia, kecemasan eksistensial yang didasari atas fakta keterlemparan ke dunia. Penolakanmu atas hidup dijadikan argumen untuk memandang hidup. Kau begitu terbuai dengan pandangan para filsuf atau nabi yang seolah-olah itu adalah hidupmu sendiri.
namun pada saat bersamaan kau sudah mendeklarasikan kematianmu sendiri.
Ah, kenapa tidak dipenghujung 2016 saja kau bunuh diri menghempaskan ke dasar sungai yang penuh bebatuan! masih ingatkah kau momen di puncak tempo dulu?
Apakah kau pernah merasa hidup? mengapa kamu mesti hidup, dan tidak memilih meniadakan saja hidupmu, jika ingin disematkan atribut pemberani? selama ini bagaimana kita menjalani hidup? jika hidup adalah caramu mengada, lantas dengan apa hidupmu kau abdikan? jangan-jangan selama ini kehidupanmum aku dan kita menuju prosesi memusnahkan diri sendiri, entah itu melalui pengetahuan atau agama sebab kamu lebih suka menitik beratkan pada yang lain bukan melalui penghayatan akan diri sendiri. Pandanglah dirimu sendiri, konon Tuhan ada dalam diri. Tapi kenapa adakalanya kita menjadi tidak manusiawi dan sering melupakan akan diri.
Realitas esensi kemanusiaan, bukan sesuatu yang diluar diri. Melainkan inhern dengan diri. Jika kamu yang hari ini masih sama dengan kamu yang 5 (lima) tahun lalu, maka sesungguhnya kamu tidak hidup. Sebab kamu tidak mampu mengaktualisasikan potensi yang ada pada diri, itu lebih sesat. Sebab artinya kamu sudah menyia-nyiakan anugerah pemberian Tuhan. Janganlah kamu merebut apa yang ada dihadapanmu. Dengan melupakan apa yang mesti kita lakukan detik ini. Jangan pula terbuai oleh romantisme masa lalu, senantiasa itu akan membunuh eksistensi diri, maka cukup kita kenang saja. Kamu menjadi munafik dihadapan yang bukan dirimu. Sebab kamu selalu memandang bahwa citra diri itu adalah segalanya. Padahal itu hanyalah fragmen kata, yang diimajinasikan seseorang atas hidup. Padahal hidup bukanlah manifestasi huruf.
Pikirkanlah apa yang bisa kamu lakukan, bukan mempersoalkan tindakan nilai yang sudah orang lain lakukan. Bencana terbesar dalam kehidupan adalah selalu berlindung dalam kebesaran diri. Pada kenyataannya menjadikanmu sombong terlebih selalu menganggap yang lain salah. Kebenaran mesti diputuskan olehmu, atau melalui kesepakatanmu. Apakah hidup menuntut kita untuk begitu? kamu sebetulnya sedang dididik mempersiapkan masa depan. Meskipun terkadang kesadaran itu selalu luput dari intensionalitasmu. Atau sebetulnya kamu sedang larut dalam masa lalu. Ingin menipiskan jarak dengan kekinian, keyakinanmu mengatakan masa lalu adalah hari ini. Yang pada perjalanan hidupmu, tidak bisa menghargai orang lain. Sebab, melulu dianggap sebagai pengganggu. Apakah selama ini pandangan hidupmu selalu didasarkan atas pilihan hidup atau hanya terpaku pada kategori-kategori kebenaran padahal itu adalah bentuk ketidakbenaran.
“Jika kamu ingin memegang air mungkinkah kita menolak untuk basah?” Demikian ungkap sang guru spiritualku di sebuah pertemuan. Artinya jika kita hidup bisakah menolak hal-hal yang tidak kau sukai? memilah fragmen-fragmen yang hanya kau inginkan saja? karena kamu sudah memilih untuk hidup, maka terimalah pesakitan dan kelukaan.
Setelah kau memahami apa itu hidup lalu bagaimana kamu memperlakukan hidup, maka damailah dengan hidup. Aminilah segala perbuat…
(**/a’ib)






Comment