Relawan PMI Kotamobagu Dalam Penanganan Covid-19

“Kami harus keliling memberikan pelayanan kepada masyarakat meski hari libur. Melakukan penyemprotan disinfektan adalah ikhtiar mewaspadai penyebaran wabah corona”.

Begitu kata Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kotamobagu, Kiki Riski Mokodompit (36), warga Kelurahan Mogolaing, Kecamatan Kotamobagu Barat.

Merebaknya virus Covid-19 di sejumlah daerah di Indonesia, tak membuat surut relawan PMII untuk bergerak bersama melakukan berbagai penanganan dan antisipasi ancaman penyebaran Pandemi Covid-19.

Suka duka dialami setiap relawan PMI Kotamobagu, yang bertugas menjadi front liner (garis terdepan) dalam penanganan Corona. Seperti halnya, para tenaga kesehatan, aparat penegak hukum, PMI juga punya peranan penting memutus mata rantai penyebaran virus dari Kota Wuhan China ini.

Kiki sapaan akrabnya, sempat berbagi banyak cerita dengan awak media ini. Menurut bapak dua anak ini, pekerjaannya sebagai relawan PMI adalah hal mulia, yang tak mengharap imbalan.

Sejak merebaknya Covid-19 di Kotamobagu, bersama anggota PMI lainnya, beberapa kali melakukan operasi pelayanan dalam rangka pencegahan dan penanganan penyebaran corona.

Tentu ini secara sukarela dilakukan untuk memenuhi setiap panggilan maupun permintaan penyemprotan disinfektan berbagai kantor pelayanan publik, fasilitas umum ,sekolah maupun rumah ibadah.

Namun, pengabdian yang rentan terjagkitnya Covid-19 karena harus bertemu dengan orang lain dan mendatangai berbagai fasilitas umum, tak membuat PMI surut, karena saat turun lapangan, telah disiapkan Alat Pelindung Diri seperti rompi hitam, setelan baju PMI, memakai masker, sarung tangan dan sepatu boot, kacamata pelindung dan sepatu boot sebagai standar dan hukumnya wajib digunakan saat bertugas di lapangan.

Memakai APD tentu membuat tak nyaman bagi yang belum biasa, sebab rasa panas, penat sudah dibiasakan. Aktifitas dengan penuh resiko sudah menjadi komitmen sebagai relawan PMI.

“Suka dan dukanya pasti ada, kita keliling memberikan pelayanan kepada masyarakat meski hari libur, memenuhi setiap panggilan permohonan untuk melakukan penyemprotan disinfektan sebagai ikhtiar kita mewaspadai penyebaran wabah corona saat ini,” kata Kiki, Kamis (31/12).

Beberapa jam lagi, akan menyambut Tahun Baru 2021. Dirinya serta tim sudah stanby di tiap pos pelayanan terpadu di Kotamobagu. Dengan terpaksa harus berpisah dengan keluarga. Ini sebagai bentuk pengabdian, semata-mata untuk menjaga Kotamobagu dari segala bentuk penanganan pelanggaran protokol kesehatan.

“Tim evakuasi kami selalu standby di perbatasan. Jika sewaktu – waktu diperlukan kami hadir,” katanya.

Menurutnya, kasus Covid-19 di Kotamobagu kian meningkat. Pemerintah pun telah menelorkan edaran dan Polri mengeluarkan Maklumat pembatasan jam operasional sosial.

Demi kepentingan keselamatan warga, cara efektif saat ini bukanlah vaksin, sebab belum diedarkan pemerintah secara luas. Tapi dengan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yakni mematuhi protokol kesehatan 3 M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak).

Ia meyakini, bila virus corona ini benar ada. Jangan mengabaikan apa yang sudah menjadi peraturan pemerintah.

“Tetap patuhi protokol kesehatan, dengan 3M, selalu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak atau menghindari kerumunan,” ajak Kiki.

Perayaan malam Tahun Baru 2021 nanti, dirumah saja, tidak perlu ada perayaan yang meriah. Dia ingatkan bila saat ini masih suasana pandemi.

Dia juga mengajak warga akan perubahan perilaku dimasa Pandemi Covid-19 sangat penting. Tak perlu takut beraktivitas di luar rumah, asalkan tetap mematuhi imbauan pemerintah.

“Karena saya relawan PMII, mengkuti protokol kesehatan sudah terbiasa, karena kami dilatih hal yang safety saat bertugas di lapangan,” kata Kiki.

 

(Yudi Paputungan)

Comment