[FEATURE] Cara Mengajar Baca Al Quran  Ditengah Covid-19

35 orang santri ini tidak boleh putus belajar meski ditengah Pandemi Covid-19. Menuju masa depan harus terus diasah dengan ilmu agama, untuk membangun karakter mereka menghadapi tantangan kedepan yang lebih kompetitif.  

Taman Pengajian Mototompia’an Desa Bilalang 1 Kecamatan Kotamobagu Utara Kota Kotamobagu Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), sejak Agustus 2020 telah membuka kembali belajar baca Al Qur’an bagi 35 orang santri, setelah sempat ditutup karena kebijakan pemerintah Kota Kotamobagu, dimasa Pandemi Covid-19 melanda seantero dunia.

Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu April 2020 lalu, sempat membahas pengajuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), setalah ada 7 (tujuh) warga di daerah itu positiv Covid-19. Namun, hal itu tak diberlakukan, karena kabarnya tidak masuk dalam beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebagaimana diatur dalam Permenkes 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Memang kriteria dalam pengajuan PSBB cukup ketat, mulai dari jumlah kasus dan kematian yang meningkat tajam, penyebaran yang mulai meluas ke beberapa wilayah melalui transmisi lokal, serta terdapat kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah lain.

Meskipun PSBB tak diberlakukan, Pemkot Kotamobagu, sempat menutup fasilitas pemerintah, fasilitas umum seperi pasar, pertokoan, dan fasilitas publik lainnya, termasuk penutupan rumah-rumah ibadah. Sehingga, taman-taman pengajian juga terkena dampak penutupan tersebut.

Tak terkecuali Taman Pengajian Al Qu’an Mototompia’an Desa Bilalang 1. Dengan jumlah santri 35 orang dan guru mengajar 4 orang, akhirnya dibuka kembali sejak Agustus silam, setelah kebijakan Pemkot membuka kembali fasilitas publik, pasar dan toko-toko serta rumah-rumah ibadah boleh digunakan kembali.

Tapi Pandemi Covid-19 belum berakhir dan masih mengancam nyawa warga yang terkena Coronavirus Disease (COVID-19). Sementara, para santri harus mendapatkan curahan ilmu baca Al Quran dari para gurunya.

Pihak Yayasan Hasanuddin yang menaungi TPA ini pun harus mengeluarkan kebijakan bagaimana tata cara belajar mengajar baca Al Quran, agar kembali beraktivitas seperti sedia kala. Karena Pemkot Kotamobagu, memberi kebijakan ada aktivitas seprti semula, namun mengikuti protokol kesehatan Pandemi Covid-19.

35 orang santri yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama ini, kembali melanjutkan belajar baca Al Qurannya. Dengan syarat wajib mengikuti protokol kesehatan, yang telah ditetapkan pemerintah.

Kekhawatiran para guru, karena masih dihantui Pandemi Covid-19. Apalagi, para santri bisa dibilang masih anak-anak dan remaja, yang belum memahami secara utuh apa itu Pandemi Covid-19, dan bagaimana cara mengatasinya. Maka hanya orang dewasa yang pahamlah yang harus memberikan informasi secara utuh akan pentingnya mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

Salah satu guru yang berhasil diwawancara media ini, Isnawati Mokoginta mengatakan mengubah perilaku masyarakat ditengah Covid-19 bukan hal yang mudah, apalagi aktivitasnya sebagai guru mengajar baca Al Quran bagi anak-anak harus dengan kiat khusus.

Memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan di taman pengajian dimana Isnawati mengajar. Yang dihadapi setiap mengajar adalah anak-anak yang harus didampingi, demi kesehatan dan keselamatan mereka.

Nah, untuk menghindari terjadi kerumunan, maka pihak yayasan meminjam tempat yang lebih luas yakni di Masjid Nurul Iman Desa Bilalang I. Selain ruangannya luas, juga sirkulasi udara juga bagus dan tersedia air mengalir untuk mencuci tangan.

Tidak mungkin untuk menghadirkan 35 orang santri sekaligus per hari, maka dipisahkan santri laki-laki dan santri perempuan, begitupun yang masih bacaan Iqro terpisah dari santri yang sudah bisa membaca di Kitab Suci Al Quran. Dan taman pengajian hanya dibuka pada hari Senin sampai dengan Rabu.

“Begitulah cara kami agar menghindari terjadi kerumunan,” kata Isnawati, Sabtu (19/12).

Mengubah perilaku masyarakat tidak mudah, apalagi bagi usia anak-anak. Makanya, selain santri-santri ini belajar baca Al Quran, mereka juga kami ajarkan bagaimana hidup dimasa new normal ditengah Pandemi Covid-19. Bahwa, virus ini sangat berbahaya, tapi belajar juga tidak boleh putus karena itu adalah bagian dari ibadah dan masa depan para santri.

Dengan pemberlakuan itu, maka tidak terjadi penumpukan santri di dalam Masjid, mereka dipisahkan dari segi kelas belajar yang sudah bisa baca Al Quran dan yang masih belajar di buku Iqra, begitupun perempuan dan laki-laki dipisahkan. Ini cara agar menghindari kerumunan, tapi guru juga harus terus mengawasi. Karena mengubah perilaku itu tidak mudah dan setiap saat harus dilakukan.

 

(fahmi gobel)

Comment