Petugas Surveilans Covid19 Akhirnya Tapapar, Begini Ceritanya

“Sebagai petugas surveilans tentu sudah sangat ketat sekali protokol kesehatan (protkes) 3M, tapi turun langsung ke pasien Covid-19, tracking kontak erat sampai penguburan pasien yang meninggal, itu beresiko tinggi bagi kami”

Agnes Piara

Bukti bahwa siapapun bisa terpapar virus Covid-19, meski tenaga kesehatan (Nakes) sekalipun. Seperti dialami Agnes Piara, seorang petugas Nakes di Puskesmas Passi Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), akhirnya menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah karena divonis Covid-19.

Selama 21 hari, Agnes dengan sabar tak ada kontak langsung karena terpisah ruangan dengan suami dan anak-anak di rumah. Mulai tanggal 5 Agustus, Nakes ini menjalani isoman karena sudah terpapar Covid-19, dan menghindari bersentuhan langsung dengan orang lain.

“Sabar dan bahagia adalah kunci menjalaninya, untung saja keluarga sangat support saat isolasi di kamar,” kata Agnes.

Selama 21 hari itu, beberapa bagian kamar dan ruangan terpaksa dirubah demi kenyamanan saat Isoman, suaminya mendukung dan membuatkan wastafel dekat kamar agar gampang untuk cuci tangan. Sedangkan makanan hanya diantar depan kamar, setiap pagi keluar dan berjemur di panas matahari pagi. Interaksi dengan anggota keluarga dilakukan berjarak atau lewat telephon.

Beberapa hari media ini mengubungi Agnes untuk mewawancarai pengalaman saat isoman. Berbagai cerita diutarakan, mulai dari saat dia menyadari dan memeriksakan diri dan dinyatakan positif Covid-19. Terakhir, dihubungi Selasa (31/08), Agnes menjelaskan soal pekerjaannya sebagai Nakes yang setiap hari berurusan dengan persoalan Covid-19.

Bukan hanya sebagai Nakes yang ditugaskan sebagai petugas surveilans, Agnes juga punya kewajiban lain sebagai Ketua Penggerak PKK Kecamatan Passi Timur, karena suami adalah camat di wilayah itu. Otomatis harus berhubungan juga dengan pengurus lain sampai pengurus PKK di tingkat desa, dan disisi lain juga mengurus rumah tangga.

Sebagai petugas surveilans yang harus turun lapangan guna melakukan pengamatan secara terus menerus terhadap penderita Covid-19 maupun tracking terhadap kontak erat pasien, kewajiban itu harus dilakukan secara sistematis karena akan mengumpulkan data, pengolahan dan analisa, agar tindakan penanggulangan nanti akan lebih efektif. Tugas itu cukup berat, sebab harus menemui langsung kepada orang per orang.

Belum lagi bila ada acara kemasyarakatan di kampung, sebagai warga juga istri dari seorang pejabat (camat), maka mau tak mau juga akan hadir di acara-acara misalnya resepsi pernikahan maupun duka, walapun awas dan hati-hati tidak bersentuhan langsung dengan orang lain, tapi kita tidak tahu ada orang yang mungkin sudah membawa virus, dan kita pun pasti akan lalai di antara banyak orang .

Secara pribadi mungkin kita telah secara ketat mengikuti protokol kesehatan (protkes) dengan menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak), tapi ada orang lain yang teledor padahal sudah membawa virus, maka disitulah sangat rentan dan siapapun menjadi incaran virus Covid-19.

Tanggung jawab sebagai surveilans seperti halnya informan yang harus melaporkan gambaran tren kasus apakah ada peningkatan atau tidak, tentu saja data yang dikumpulkan di lapangan tidak boleh asal comot, karena ini sangat berkaitan dengan kebijakan yang akan diambil para pengambil keputusan (pemerintah).

Sebab kata Agnes surveilans adalah salah satu pilar utama penanggulangan pandemi Covid-19. Tak sekedar mengumpulkan data, melainkan proses yang sistematis harus dijalankan mulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis dan interprestasi data, lalu dilaporkan sebagai bahan pengambilan keputusan, dan laporan itu tentu saja sampai ke pemerintah pusat.

“Karena tujuan akhir dari surveilans ini adalah pemutusan mata rantai penularan, termasuk mengatasi kesakitan dan kematian. Intinya surveilans juga sebagai kunci, berapa besar angka kematian, jadi tugasnya begitu berat,” terangnya via selular.

Padahal, sebagai Nakes juga Ketua TP PKK Kecamatan, Ia setiap saat selalu sosialisasikan protkes Covid-19, bagaiamana peran ibu-ibu agar selalu mengingatkan anggota keluarga soal memakai masker bila keluar rumah, sering cuci tangan dengan sabun atau gunakan hand sanitizer dan menghindari kerumunan, jangan keluar rumah bila tidak ada urusan penting. Bukan hanya disampaikan saat rapat atau pertemuan, tapi di media sosialnya (akun FB), hampir semuanya berisi pesan protkes. “Itu  resiko pekerjaan,” kata Agnes yang hobi mengendarai motor besar.

Tapi kenyataan berkata lain, seorang Nakespun akhirnya terpapar Covid-19, ternyata bukan hanya kita yang harus taati 3M, tapi bila orang lain acuh tak acuh maka virus bisa mengintai kita dan ancaman bisa terpapar. Untung saja kata Agnes, Ia sudah divaksin tahap kedua sehingga tidak sempat menderita yang sangat parah, tapi belum divaksin booster ke tiga, masih dipending karena penyintas. “Mungkin November akan divaksin lagi,” kata Agnes.

Saat isoman Agnes bertepatan merayakan ulang tahun, tidak ada perayaan khusus bahkan tidak ada hadiah, hanya ada kue ultah, sebab Ia sendiri melarang anggota keluarga untuk mendekatinya agar tidak terjangkit virus dari Wuhan yang telah melanda seluruh dunia tersebut. Baginya, doa dan sokongan moril dari keluarga sudah cukup untuk menguatkan batin, menjaga imun untuk melawan virus mematikan itu.

Kiat Agnes saat isoman tidak terlalu rumit, karena Ia juga tidak mengalami sesak nafas dan demam tinggi sehingga harus mendapat perawatan ektra, hanya saja Ia menyadari bila terkena virus maka harus isoman jangan mendekati orang lain, agar mata rantai virus darinya terputus hanya Ia yang mengalami. Dan harus banyak minum air hangat, minum vitamin sambil berjemur di matahari pagi, serta makan makanan yang sehat dan banyak istirahat.

Kegiatan sosial kemasyarakat benar-benar terhenti selama masa isolasi, akan tetapi selama di kamar Ia melakukan hal-hal positif lain diantaranya terus berdoa kepada Tuhan. Rutinitas seperti membersihkan diri atau mandi pagi dan sore hari tetap dilakukan demi kesehatan. Dan selalu berpikiran positif, dan mengisi membuka gadget melihat informasi-informasi yang lagi tren.

“kalau ada yang isolasi adalah kesempatan untuk menonton film korea dan youtube,” kata Agnes bergurau.

Kini Agnes bebas dari Isoman sejak tanggal 26 Agustus lalu dan telah dinyatakan kembali negatif. Tapi Ia mengingatkan agar tetap taati protkes Covid-19 meskipun bagi warga yang sudah divaksin, karena bila terjangkit maka harus isoman, agar tidak menularkan ke orang lain, kasihan dengan keluarga apalagi bagi yang rentan yakni orang tua dan anak-anak.

Yang dibutuhkan saat ini kata Agnes, adalah perubahan perilaku setiap orang selama masa pandemi Covid-19, yaitu menjaga kesehatan dan keselamatan sesama dengan cara mengikuti anjuran pemerintah terkait 3M. kesadaran kolektif dibutuhkan, agar secara bersama-sama kita melawan penyebaran pandemi Covid-19.

“Karena bila tidak dilakukan secara bersama-sama, maka upaya kita, upaya pemerintah akan sia-sia dalam memutus mata rantai penyebaran Corona,” kunci Agnes, sembari berpesan jangan bilang bahwa Nakes bisa mengcovidkan orang, karena Nakes juga bisa terpapar Covid-19.

 

Penulis: Fahmi Gobel   

Comment