Oleh: Faisyal Tees, M.Pd
Kurang lebih 18 bulan berjalan ini, pandemi masih terus melanda hampir diseluruh belahan dunia, tak terkecuali di Negeri kita tercinta Indonesia. Keadaan ini merubah semua sistem kehidupan manusia yang terlihat normal sebelum datangnya pandemi Covid-19 ini, termasuk dari segi pendidikan yang sampai saat ini masih terus berlanjut.
Pandemi yang masih terus berlangsung memaksa, mau tidak mau, suka tidak suka peserta didik kita harus ikut beradaptasi dengan keadaan masa kini. Dan bahkan pemerintah pun mengeluarkan peraturan yang mana melarang belajar dengan model tatap muka langsung di sekolah (di kelas), dan membuat pelajar beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yakni dengan metode daring, luring atau blended sebagai solusi untuk tetap mendapatkan ilmu selama berada di luar sekolah atau di rumah.
Dengan pemberlakuan larangan untuk belajar tatap muka langsung di sekolah dan digantikan dengan PJJ, maka menuntut peran teknologi dalam bidang pendidikan terus digenjot, para pendidik dan peserta didik diharapkan dapat menyesuaikan diri dalam memanfaatkan teknologi tersebut.
Penguasaan terhadap beberapa aplikasi pembelajaran menjadi keharusan bagi para pendidik untuk bisa mengoperasikannya dengan dibantu oleh penguasaan komunikasi dalam media sosial baik dengan menggunakan Whatsapp (WA), Telegram, Masengger, dan lain-lain.
Metode pembelajaran Daring menjadi ujung tombak dalam menjawab tantangan pendidikan dimasa pandemi seperti ini. Sehingganya segala hal yang berkaitan dengan perangkat keras dan lunak menjadi prasyarat utama dalam menjalankan metode pembelajaran ini.
Secara umum, belajar daring (dalam jaringan) dapat dimaknai sebagai kegiatan belajar yang dilakukan menggunakan koneksi internet. Lewat pembelajaran daring, peserta didik diharapkan mendapat ilmu yang sama dengan kegiatan belajar tatap muka langsung di kelas. Akan tetapi , dengan kondisi yang lebih fleksibel dan rileks karena kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan di rumah tempat tinggal sendiri.
Dari beberapa literatur dan fakta yang didapatkan, dalam hal manfaat belajar daring, yang dapat dirasakan adalah:
Proses Pembelajaran Lebih Rileks
Disebabkan kegiatan pembelajaran daring tersebut berlangsung di rumah sendiri,maka membuat peserta didik dan guru merasa lebih rileks dan nyaman selama proses belajar berlangsung. Guru dan peserta didik dapat memposisikan dirinya masing-masing pada posisi yang nyaman bagi mereka, guru nyaman memberikan pengajaran, dan bagi peserta didik nyaman dalam menerima pengajaran dari guru. Kondisi rileks ini diharapkan dapat membangkitkan semangat dalam mengikuti proses pembelajaran lewat daring tersebut. Hal ini diperlukan agar nantinya guru maupun peserta didik tidak mengalami kebosanan dengan kondisi tersebut, terlebih pembelajarannya dalam jaringan ini, sehingga kondisi yang benar-benar kondusif dan mendukung menjadi salah satu keberhasilan pembelajaran daring ini.
Waktu Belajar yang tidak mengikat
Belajar daring memungkinkan peserta didik mengatur waktu belajar mereka sendiri Hal tersebut menjadi kelebihan belajar daring di banding belajar langsung lewat tatap muka di kelas. Selain manfaatnya, pembelajaran daring pun memiliki sisi kelemahan dan kekurangan dan banyak kendala yang dihadapi dalam mewujudkan pembelajaran yang diinginkan.
Adapun kendala yang dihadapi dalam mewujudkan pembelajaran daring yakni ketersediaan sarana dan prasarana penunjang, baik oleh peserta didik maupun tenaga guru, seperti ketersediaan alat seperti Handphone (GP)/ Gawai, Leptop/PC Komputer. Selain itu terhubungnya jaringan internet menjadi hal yang sangat penting juga dalam pelaksanaan pembelajaran daring, serta ketersediaan data internet bagi peserta didik terutama bagi mereka yang termasuk keluarga ekonomi rendah yang kesulitan dalam pengisian data internet.
Selain itu, faktor manusianya perlu menjadi perhatian. Dua sisi yang yang harus di kuatkan dan di kembangkan yakni kemampuan guru dalam mengoperasikan IT dan aplikasi penunjang pembelajaran, dan dari sisi peserta didiknya terkait dengan kemampuan mereka dalam mengakses aplikasi pembelajaran yang digunakan gurunya. Sehingga dua komponen ini menjadi perhatian penuh dalam mensukseskan pembelajaran daring ini.
Untuk itu perlu peran dan dukungan semua pihak baik guru, orang tua, maupun pemerintah, dalam mensukseskan pendidikan di masa pandemi ini, dimana pembelajaran di masa pandemi ini tidak boleh berhenti dan harus terus berjalan akan tidak terjadi Loss Generation (terputusnya generasi) disebabkan terputusnya pendidikan.
Masa pandemi bukanlah masa degradasi pendidikan, tetapi kita harus senantiasa bergerak selangkah lebih maju, jangan sampai kita tertinggal dengan yang lainnya. Kita harus tetap berinovasi dengan teknologi, harus siap dengan perubahan dan dapat memberikan pembelajaran yang lebih baik pada peserta didik. Semoga kita tetap menjadi pendidik sebagai garda terdepan di bidang pendidikan. Aamiin Ya Robbal Alamiin.
Penulis merupakan Guru PAI SMA Negeri 1 Bone Kabupaten Bone Bolango, Ketua MGMP PAI SMA Kabupaten Bone Bolango, Penggurus DPD AGPAII Kabupaten Bone Bolango.






Comment