by

Perjuangan Nakes dari Rawat Pasien Isolasi Hingga Vaksinasi Covid-19

Sebagai manusia biasa mereka juga memiliki kekhawatiran bahkan ketakutan. Namun sumpah profesi mewajibkannya berada di garda terdepan menyelamatkan nyawa manusia.

Tak sedikit nyawa tenaga kesehatan (nakes) melayang selama pandemi Covid-19 di dunia tak terkecuali di Indonesia, banyak pula yang terganggu dan menderita sistem pernafasan karena terserang Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Virus yang muncul pertama kali di Kota Wuhan China pada 2019 silam ini, berhasil mengancam keselamatan setiap nyawa umat manusia. Tak hanya itu, perkonomian dunia lumpuh karenanya. Di Indonesia sendiri Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut kerugian negara mencapai Rp 1.256 Triliun pada tahun lalu (2020). (baca: https://ekonomi.bisnis.com/read/20210429/9/1388020/sri-mulyani-sebut-kerugian-ekonomi-rp1356-triliun-akibat-covid-19-tahun-lalu) .

Intinya, segala sendi berhasil diporak poranda oleh virus yang menurut hasil investigasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) muncul dari peternakan satwa liar di China. Dilansir dari Live Science Kamis (18/3/2021), ahli ekologi penyakit Tim WHO menjelaskan bila di sekitar Provinsi Yunan China Selatan, terdapat banyak peternakan satwa liar, yang kemungkinan pemasok hewan ke pedagang di Pasar Grosir makanan laut Huanan di Wuhan, tempat muncul pertamanya kasus Covid-19.

Kembali ke kisah para Nakes yang telah banyak kita saksikan, mulai dari meninggal karena terserang Covid-19, di India ada dokter frustasi dan berakhir dengan bunuh diri. Tak sedikit juga yang kegerahan di ruang isolasi saat melayani pasien karena harus menggunakan alat pelindung diri (APD) baik hazmat dan masker berlapis, namun kondisi itu harus dilakoni demi menjaga kesehatannya dan pasien.

Nah, bagaimana para Nakes di Kotamobagu, tentu beberapa dari cerita di atas sudah pasti dialami, meski tidak pernah terdengar ada Nakes di Kotamobagu yang sampai bunuh diri. Namun, kekhawatiran dan kegerahan pasti menjadi pengalaman tersendiri, terlebih diawal tahun 2021 saat munculnya banyak kasus Covid-19.

Kekhawatiran para Nakes bukan hanya takut terserang Covid-19 tapi juga penyakit menular lainnya, karena tidak menutup kemungkinan pasien yang sedang dirawat adalah pengidap penyakit menular lainnya seperti Hepatitis B, HIV AIDS, TB. Sehingga memakai APBD berjam-jam menjadi kaharusan, meskipun juga harus ada kehati-hatian dalam pelayanan jangan sampai ada kontak langsung antara nakes dan pasien.

“Yang kami hindari jangan ada kontak langsung misalnya darah, makanya kami juga sangat hati-hati menggunakan jarum suntik dan perlatan medis lainnya, jadi steril itu menjadi kwajiban untuk menjaga kesehatan pasien dan diri kami sendiri,” kata salah satu Nakes dari RSUD Kotamobagu, Emilia Ruru.

Banyak kisah diceritakan pada saat mereka tim dari RSUD itu turun ke desa-desa, sekolah-sekolah untuk melayani vaksinasi Covid-19. Kini mereka tak lagi berada dalam ruangan isolasi pasien di RSUD, yang menggunakan APD lengkap, namun bisa menghirup udara segar di luar, tapi tetap melayani warga yang ingin divaksin.

Pantauan media ini di beberapa kali pelaksanaan vaksinasi di wilayah Kotamobagu, sesekali mereka (Nakes) terlihat bercanda dengan pasien atau sesama Nakes di waktu yang senggang. Mereka berjumlah sembilan orang Nakes dari RSUD yang tergabung dalam satu tim vaksinasi Covid-19.

Mungkin saking terbiasanya melayani pasien Covid-19 saat si rumah sakit, para Nakes ini terlihat cepat melayani warga calon penerima vaksin. Bila jumlah warga 200-an orang, hanya butuh beberapa jam saja sampai selesaikan program vaksinasi. Mereka akan hadir mulai Pukul 09.00 sampai 14.00 Wita, dipastikan pelayanan penyuntikan selesai.

Pada masa vaksinasi ini, para Nakes juga dituntut untuk melayani warga. Apalagi, Kotamobagu menargetkan hingga Desember 2021, capaian vaksinasi diangka minimal 75 persen. Otomatis, Nakes yang menjadi ujung tombak memutus mata rantai penyebaran Covid-19, kembali berada di garda terdepan.

Pun, melakukan pelayanan vaksin terkadang dilakukan dari pagi hingga malam hari. Mereka terkadang melayani vaksinasi dari pagi di satu lokasi dan pindah ke lokasi lain di sore sampai malam hari.

Data harian yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 5 Oktober lalu, Kotamobagu telah menggunakan vaksin sebanyak 41.898 dosis. Dan rata-rata vaksinasi mingguan di Kotamobagu adalah 500 dosis, dengan stok vaksin tersedia 12.584, dan diprediksi akan habis dalam 25 hari kedepan.

Tapi belakangan gerai vaksin Pemkot Kotamobagu, Serbuan Vaksin dari TNI dan Polri, dan Vaksinasi Massal oleh BIN telah menambah data warga divaksin. Bahkan, di beberapa sekolah SMP sederajat dan SMA sederajat vaksin dosis pertama hampir tuntas, tinggal tersisa pelajar yang tunda vaksin atau belum bisa divaksin karena ada surat keterangan dari dokter.

Hal itu tak luput dari peran Nakes yang genjar melaksanakan vaksinasi dari satu titik ke lokasi lain, dari desa geser ke kelurahan lain, hingga membantu institusi atau lembaga yang menggelar vaksin. Lelah, Cepek, kekhawatiran para Nakes telah membuahkan hasil, dan kini Kotamobagu berada di titik aman yakni PPKM level I dari ancaman Covid-19.

Mereka berharap, meskipun warga sudah divaksin, tapi tetap mengikuti protokol kesehatan Covid-19, dengan menuruti anjuran 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas).

 

Penulis: Fahmi Gobel

Comment