Pulau Molosing Milik Siapa? Yusra Alhabsyi dan UDK Tinjau Potensi: Dari Kerusakan Terumbu Karang hingga Konektivitas ke Pulau Tiga

Bupati Yusra dan Tim UDK memulai eksplorasi berjalan kaki dari sisi barat pulau, menyusuri pantai berpasir putih. Baru sekitar 70 meter perjalanan, mereka menemukan pecahan terumbu karang berserakan. Diduga kuat, kerusakan ini disebabkan oleh praktik pengeboman ikan oleh oknum nelayan yang tidak bertanggung jawab.

Di lokasi tersebut, beberapa pohon kelapa tumbuh subur dan nampak ada puing bangunan tua yang telah roboh. Tim UDK pun mulai mengambil sampel tanah dan pasir serta mencatat jenis tumbuhan yang tumbuh alami. Pun, beberapa nelayan tampak sedang memancing, berdiri dari atas karang yang mulai rusak.

Yusra melanjutkan penelusuran dengan alas kaki, sesekali berhenti mengamati hutan kecil yang ada. Di sisi timur pulau, yang menghadap langsung ke Samudera Pasifik, batuan alami tersusun indah menambah estetika. Terdengar pula kicauan burung bersahutan, dan tercatat setidaknya ada tiga jenis burung langka yang bersarang di sana.

Namun, kondisi mangrove—khususnya jenis api-api putih—sangat memprihatinkan. Hanya beberapa pohon bakau jenis Avicennia yang masih bertahan hidup. Hal ini memperlihatkan minimnya upaya pelestarian.

Kembali lagi ke titik awal di bagian pulau yang berbentuk haluan. Diperkiarakan sedikitnya 1 (satu) jam untuk menyusuri lingkaran pesisir pulau. Sehingga hanya butuh 3-4 jam berada di pulau ini, dipastikan sudah mengeksplor pesisirnya. Lain lagi kalau ditambah snorkeling taman laut sekitarnya.

Pengeboman Ikan dan Aspirasi di Bawah Pohon Ketapang

Di bawah rindangnya pohon ketapang, Bupati Yusra duduk beralas pasir putih. Bersama personel Pos AL dan Sekretaris Dinas Perikanan Bolmong, diskusi informal berlangsung hangat. Mereka menyampaikan kendala patroli laut akibat keterbatasan fasilitas.

Menanggapi itu, Yusra menegaskan pentingnya keberadaan Pos Singgah di Pulau Molosing.

Usai menyusuri Pulau Molsing, lanjut diskusi informasi Bupati Yusra Alhabsyi dan stakeholder yang hadir, Minggu (25/5/2025). (Foto: UDK)

“Kita upayakan pembangunan pos lengkap dengan lampu, bangunan dan akses internet untuk pemasangan CCTV. Ini akan menunjang patroli dan pemantauan,” ujar Yusra.

Pos ini nantinya juga dapat dimanfaatkan oleh nelayan sebagai tempat berlindung dari cuaca ekstrem, serta bagi para peneliti dan pelaku wisata.

Seorang personel Pos AL menambahkan, “Kalau Pemda fasilitasi, kami sangat terbantu. Jadwal patroli bisa rutin, dan kriminalitas bisa ditekan.”

Sekretaris Dinas Perikanan, Supriadi Agantu, juga menyampaikan fakta menarik: beberapa tahun lalu, ditemukan tiga ekor ikan coelacanth (Latimeria menadoensis)—ikan purba yang tergolong sangat langka.

Selain itu, beberapa titik terumbu karang masih dalam kondisi baik, terutama di kedalaman lima meter, dan berpotensi dikembangkan menjadi spot snorkeling.

Yusra pun berencana berkoordinasi dengan Pemda Bolmut dan Minsel untuk sinergi lintas wilayah.

“Kita akan ajak TNI, Polri, dan KKP untuk jaga pesisir secara kolektif,” tambahnya, agar menjaga lingkungan dari ancaman orang tak bertanggung jawab.

Potensi Wisata, Riset, dan Edukasi

Comment