Weny-Rendy Program Karakter dari Hati Anak-anak, Kunjungan ke Rekan yang Sakit atau Musibah

“Weny Gaib membayangkan, lewat gerakan kecil tadi, seperti kunjungan ke rumah siswa yang absen, akan terbentuk mekanisme sosial yang membentuk kejujuran secara alamiah”

*Dokter Weny Gaib*

Wali Kota dr Weny Gaib, SpM dan Wakil Wali Kota Rendy Virgiawan Mangkat, sadar bila Kotamobagu, tak akan bisa dibangun dalam kurun waktu lima tahun.

Namun, ada yang briliant dari kedua pemimpin yang dilantik di Jakarta, Kamis 20 Februari 2025, soal membentuk generasi yang berkarakter.

Apabila dilakukan sejak sekarang pasti dampaknya akan seumur hidup.

Maka ketika Wali Kota dr. Weny Gaib berbicara tentang anak-anak dan akhlak di ruang kerjanya, Rabu pagi (2/7/2025), ia tidak sedang berbicara tentang program jangka pendek, tetapi tentang warisan untuk masa depan Kotamobagu.

Weny Gaib didampingi Assiten III Agung Adati, dihadapanya ada Kepala Dinas Pendidikan Muhammad Aljufri Ngandu dan Sekretaris Dinas Kusnadi Pobela, serta jajaran.

Agenda awal adalah membahas kerja sama digitalisasi sekolah bersama Google. Namun pembicaraan itu meluas. Tidak hanya membicarakan fasilitas yang diberikan Google untuk pendidikkan di SD dan SMP, tapi menyentuh sesuatu yang jauh lebih penting yaitu serangkai nilai hidup.

“Saya ingin anak-anak sekolah di Kotamobagu bukan hanya pintar secara akademik. Tapi punya akhlak. Punya rasa kebersamaan, empati, dan kepedulian. Kalau itu bisa kita tanamkan, maka 20 tahun lagi, kita akan memetik hasil yang sangat luar biasa,” ujar dr. Weny dengan wajah yang teduh.

Weny Gaib tahu, akhlak bukan hanya dibentuk lewat ceramah, dakwah dan pengajian, atau di rumah ibadah, masjid, gereja atau pura.

Weny tidak sedang menawarkan kurikulum baru serta digitalisasi dunia pendidikan karena sudah waktunya harus menyesuaikan.

Sebaliknya, ia berbicara tentang gerakan kecil, yang bisa dimulai di setiap sekolah, tanpa perlu anggaran besar, tapi hanya butuh keseriusan dan kesadaran para pendidik.

Ia mencontohkan hal kecil yang boleh dilaksanakan oleh sekolah.

“Kalau ada anak yang sakit, kenapa tidak gurunya ajak teman-teman sekelasnya untuk berkunjung? Bawa semangat, mungkin hanya sekadar mendoakan, tersenyum, tak perlu harus membawa barang yang mahal,” ujarnya.

Baginya, kunjungan kecil seperti itu bisa membentuk rasa persaudaraan yang tulus. Anak-anak bisa belajar, bahwa teman bukan sekadar orang yang duduk di sebelah saat pelajaran, tapi seseorang yang harus diperhatikan saat sedang sakit atau mendapat musibah.

Dampak lain, guru akan mengenal muridnya lebih dekat, tau di mana rumahnya dan siapa keluarganya.

Jadi bukan sekadar tahu nilai rapor, tapi tahu seperti apa lingkungan tempat mereka tinggal. “Kita jadi tahu rumah anak-anak didik kita. Ketika ada masalah, kita tidak bingung mencari mereka,” tambahnya.

Weny juga menceritakan sebuah realitas yang sering dianggap remeh, diantaranya ketidakjujuran yang ditanam sejak kecil.

Ia mencontohkan, orang tua yang mengajak anak ke mall di Manado, lalu melaporkannya ke sekolah ssedang sakit, dan sudah beberapa hari tidak masuk kelas.

“Anak-anak itu akan lihat dan paham. lama-lama mereka akan belajar bahwa membohongi guru itu tidak boleh, karena nanti guru dan teman-teman akan datang ke rumahnya, dan lihat yang sebenarnya,” ujarnya.

Ia membayangkan, lewat gerakan kecil tadi, seperti kunjungan ke rumah siswa yang absen, akan terbentuk mekanisme sosial yang membentuk kejujuran secara alamiah.

Anak-anak akan belajar bahwa mengatakan yang benar itu penting. Bahkan mungkin, suatu saat, mereka akan berani menegur orang tuanya sendiri, bila berbohong.

“Saya ingin anak-anak kita menjadi generasi yang bisa berkata kepada kita. “Ayah, Ibu jangan bohong. Dan itu bukan hal buruk. Itu justru pertanda bahwa mereka sudah kita didik dengan benar,” kata Weny.

Weny Gaib sempat membayangkan dan diutarakan kepada jajaran Diknas pagi menjelang siang itu. Ia cukup prihatin, adanya anak-anak yang kabur dari rumah mungkin karena dimarahi orang tua, atau faktor lain.

Fenomena anak-anak yang kabur dari rumah karena konflik kecil di keluarga, mereka akan pergi tanpa arah, kadang mungkin hanya butuh tempat aman.

“Kalau mereka sudah terbiasa mengenal rumah temannya, maka ketika terjadi apa-apa, mereka tahu harus ke mana. Temannya tahu, gurunya tahu. Ini bukan hanya soal pendidikan, ini soal perlindungan sosial,” ujarnya.

Comment