“Padahal, beberapa tahun silam, kawasan yang kami datangi ini, adalah ruang bising, deru mesin dan raungan alat berat. Tapi, kicauan burung Srigunting seakan menyambut kedatangan yang disusul gema Adzan waktu Dzuhur.”
Senin (9/3/2026) Siang, kembali menapakan kaki di Blok Lanut, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Selain karyawan PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), yang menjemput, bersahutanlah kicauan burung di pepohonan sekitar camp yang dihuni puluhan orang.
Lokasi ini menjadi tempat terakhir yang belum di bongkar pasca aktivitas tambang emas JRBM. Belum lama berselang dalam hitungan tahun, kawasan ini bukanlah tempat bagi kicauan. Ia adalah ruang bising, penuh deru mesin, raungan alat berat, sesekali ada
dentuman blasting yang mengguncang tanah—seperti suara “bom” yang memantul di antara perbukitan. Namun kini, semua itu lenyap.
Sekitar 25 menit setelah kami tiba di Blok Lanut, suasana masih terasa hening, karena hanya beberapa karyawan saja ada di situ. Tak lama kemudian, pecah oleh kumandang adzan Dzuhur. Dari pengeras suara, panggilan Nya itu mengalun menembus antara batang-batang pohon yang sudah tumbuh kembali, tiupan angin dingin menambah merdunya adzan bersamaan ayunan daun pakis.

Sulit membayangkan, kawasan yang dulu menjadi pusat aktivitas tambang emas milik PT JRBM, kini berubah menjadi ruang sunyi yang menenangkan. Kami bertiga datang, bukan sekadar untuk melihat—tetapi untuk merasakan. Bahkan bermalam, menyatu dengan denyut baru yang tumbuh di bekas “luka-luka” tambang ini. Adalah sebuah konsekwensi dari meningkatkan devisa negara dan pendapatan daerah
Ini adalah ekspedisi kedua saya di tempat itu, sebelumnya pada 19 Januari 2026, dating untuk melihat langsung bekas-bekas lobang raksasa yang sudah tertutupi tanaman-tanaman pepohonan hasil reklamasi (proses pembuatan daratan baru atau pemulihan lahan rusak).
Perjalanan kali ini juga bukan perjalanan biasa. Jalan yang kami lalui adalah bekas jalur utama kendaraan tambang—jalur yang dahulu dilalui truk-truk raksasa pengangkut material emas, berliku dan terjal. Hanya sekitar 20 menit dari Desa Lanut Kecamatan Modayag.
Awalnya tiba, sopir melapor di pos penjagaan, portal besi dibuka oleh petugas. Suara gesekannya besi penghalang alias gerbang terdengar. Itu adalah batas dan tidak bole sembanarangan orang masuk. Maklum, ini adalah kawasan yang sedang direhabilitasi lagi dan mengembalikan menjadi hutan serta fungsi-fungsinya.






Comment