mediatotabuan.co, Kotamobagu – Pengurus Masjid Agung Baitul Makmur (MABM) Kotamobagu, telah memberikan petunjuk bagi jamaah yang akan melaksanakan ibadah. Upaya ini sebagai cara mengubah perilaku beribadah selama pandemi Covid-19.
Masjid terbesar di Sulawesi Utara (Sulut) tersebut, juga menyiapkan tempat wudhu yang cukup besar, sehingga bagi yang hendak membersihkan badan sebelum sholat tak akan berdesakan. Tempat wudhu pria berada di sisi kiri dan tempat wudhu wanita di sisi kanan bangunan masjid.
Haryono Tungkagi, saat sholat Magrib berjamaah, Selasa (11/05), mengaku nyaman saat beribadah di MABM, karena shaf diatur berjarak antara jamaah, menyesuaikan dengan protokol pemerintah dalam beribadah di masa pandemi Covid-19.
“Shafnya sudah diatur berjarak dengan tanda selotip hitam, sehingga jarak antar jamaah sudah bisa diatur. Ini sesuai protokol kesehatan dimasa Pandemi Covid-19,” kata Haryono.
Disisi lain kata dia, ruang untuk mengambil wudhu pun sangat luas, tidak akan terjadi penumpukan orang, keran air dibuat berjejer dan terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Sementara, Kepala Bagian Kesejateraan Sosial (Kesos) Pemerintah Kota Kotamobagu, Adin Mantali mengatakan kapasitas MABM mampu menampung 4000 jamaah. Namun, dimasa pandemi Covid-19, hanya dibatasi 50 persen dari isi ruangan.
“Jadi diatur hanya separuh dari kapasitas masjid. Perempuan hanya bisa 500 orang, karena daya tampung bagi perempuan1.000 jamaah, selebihnya itu ruangan sholat laki-laki,” kata Adin.
Dia mengklaim, masjid yang terletak di jalan Ahmad Yani, Kelurahan Gogagoman tersebut, adalah masjid terbesar di Sulawesi Utara, yang dibangun sejak 2011, dan baru diresmikan oleh wali kota, Senin (10/05) tepatnya 27 Ramadhan 1442 H.
“Bangunan masjid terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement. Ada 2 pintu utama bercorak keemasan dan beberapa pintu masuk lain yang lebih kecil di sayap kiri dan kanan masjid,” kata Adin.
Dia juga berharap, pengelolah MABM tetap mematuhi protokol kesehatan terkait tata cara ibadah dimasa Covid-19. Intinya, tetap menjalankan ibadah penuh khidmat namun sosialisasi 3 M juga terus dilakukan, agar tidak terjadi penularan Covid-19.
Penerapan protokol kesehatan saat bulan Ramadhan tetap dilakukan demi memutus penyebaran Covid-19. Intinya, umat Muslim yang menjalankan ibadah, harus mengubah perilaku bagaimana tata cara sholat dimasa pandemi.
“Begitupun hendak bersalaman, kita hanya pakai salam Corona, tidak perlu berjabat tangan, begitu imbauan pemerintah pusat, dan jangan lupa dipintu masuk harus ada petugas pengukur suhu tubuh,” kata Adin.
Penulis: Fahmi Gobel






Comment