Masker menambah penghasilannya ditengah lesunya pembeli koran. Mat Hasan (38), salah satu penjual alat pelindung diri (APD) di depan Kantor Pengadilan Negeri (PN) Kotamobagu.
Masker akhirnya menjadi kebutuhan manusia setelah corona virus desease (Covid-19) mewabah di dunia sejak awal 2020. Masker pun bermanfaat dari sisi kesehatan dan menguntungkan dari sisi ekonomi.
Mat Hasan (38), penjual koran sejak 20 tahun terakhir, bak ketiban rezeki nomplok. Mat mampu menjual masker dengan keuntungan 1 Juta rupiah setiap harinya, terlebih penghasilan menjual koran merosot apalagi dimasa Covid-19.
Penjual yang mudah akrab ini menjadi daya tarik bagi pembeli. Pantas bila hasil jualan masker bisa mencapai jutaan rupiah, menutupi kemerosotan penghasilannya dari menjajakan koran. Apalagi, pembaca koran menurun drastis setelah Corona ada, karena pembeli ketakutan sebab kertas juga salah satu media pembawa virus berbahaya itu.
Dilain sisi, Mat terus berdoa dan berharap agar pemerintah dapat mengatasi penyebaran pandemi covid-19. Ia juga tetap mematuhi protokol kesehatan covid-19 dengan memakai masker saat berjualan agar tidak tertular atau menularkan Covid-19, kepada dirinya dan keluarga.
Sembari menunjukan galon air tempat mencuci tangan yang Ia bawa dari rumah, Mat telah mengubah perilaku hidup sehat karena dianggap sebagai cara efektif dalam melawan penyebaran Covid-19, terlebih dia sering berinteraksi dengan banyak orang.
Karena perubahan perilaku itulah, sehingga Mat tetap bertahan menjual masker, walaupun keuntungan yang didapati tak sebanyak saat awal Pandemi Covid-19. Baginya menjual masker tidak hanya soal keuntungannya saja, tapi membantu orang lain dalam mencegah penyebaran Covid-19.
Mat menjual berbagai macam jenis masker yang Ia beli dari luar daerah, mulai dari masker kain, masker medis, dan masker scuba. Untuk menarik pembeli, macam-macam motif gambar dan varian disediakan, pun harga murah agar dagangan laku bersaing dengan pedagang masker lainnya.
Namun, masker yang dijual baik di apotek, toko maupun penjajah di jalanan, bisa menjadi masalah baru bagi lingkungan. Apalagi pengguna masker melonjak tajam, selama Pandemi Covid-19 masih ada.
Diikuti lagi dengan berbagai perturan pemerintah yang mewajibkan semua lapisan masyarakat harus memakai masker, entah itu orang dewasa maupun anak-anak yang sudah dianjurkan.
Sisi lain keunggulan masker ternyata membawa dampak negatif, apalagi masyarakat abai. Karena masker bekas akan menjadi tumpukan sampah, yang sangat beresiko untuk kesehatan. Apalagi masker bekas dari pengguna yang telah terpapar virus, bisa mengancam siapapun yang memegang, terutama para pasukan kebersihan.
Hal itu memantik perhatian pemerhati lingkungan hidup Putri Potabuga. Menurutnya, penggunaan masker bisa digunakan berkali-kali asalkan dicuci dengan bersih. Tapi masker sekali pakai akan berisko terjadi penumpukan sampah.
Masker sekali pakai juga berpotensi menimbulkan penularan penyakit, jika tidak diproses sebagaimana mestinya. Ini tentu harus dibarengi dengan pemahaman masyarakat tentang bagaimana pengelolahan sampah dari rumah hingga ke Tempat Pemprosesan Akhir (TPA).
Dimulai dari pengenalan sampah organik, sampah non organik, sampah plastik, dan sampah medis. Ini semua untuk memudahkan proses pengelolahan sampah menjadi bermanfaat dan punya nilai ekonomis.
“Tentunya perlu edukasi terus menerus kepada masyarakat tentang bagaimana pengelolahan sampah yang baik terutama sampah medis seperti masker,” kata Putri, Kamis (30/12).
Disini kata Purti terkait dengan perubahan perilaku masyarakat bagaimana memanfaatkan suatu barang agar tak beresiko untuk orang lain. Ancaman Pandemi Covid-19 juga punya sisi positif yakni mengajarkan kita untuk hidup sehat.
Bukan sekeder memakai masker agar tidak terjangkit virus, tapi bagaimana memahami juga, masker yang telah digunakan dan menjadi sampah. Maka, sebaiknya masker bekas itu dibungkus dengan bahan lainnya sebelum di buang ke tampat sampah, agar para petugas sampah aman dari ancaman penyakit.
Di tengah Pandemi Covid-19, kesadaran akan perubahan perilaku sangat memengaruhi kebersihan lingkungan. Imbauan protokol kesehatan dengan mematuhi 3 M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak), merupakan bagian dari upaya manusia menjaga kelestarian lingkungan.
“Pandemi telah mengajarkan kita, menjaga kesehatan dan menjaga lingkungan,” kata Putri.
(Adri Yudha)






Comment