Oleh: Hania Mamonto, S.Pd
Sejak diberlakukannya Surat Edaran Menteri tentang Work From Home (WFH) dan Learning From Home, pembelajaran mengalami disrupsi, yang semula diadakan secara konvesional bertatap muka sekarang harus dilakukan secara daring. Demikian pula terjadi di sekolah kami di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Purwerejo, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), banyak sekali kisah menarik, lucu, maupun sedih yang terjadi dalam proses belajar.
Mulai 16 Maret 2020, sekolah menerapkan metode pembelajaran peserta didik secara daring. Waktu itu bertepatan hari Senin, kami sengaja tidak meliburkan. Hal ini dikandung maksud karena kondisi orang tua tidak semua memiliki alat komunikasi melalui grup WhatsApp (WA) sehingga perlu menyampaikan secara langsung. Peserta didik tentunya akan lebih mengerti apabila mendengar penjelasan dari ibu guru. Mereka hanya berkumpul di halaman sekolah lalu diberikan lembar penugasan agar mereka bermain dengan orang tua dan keluarganya dengan bebasnya di rumah. Tetapi apabila orang tua tidak bisa mendampingi belajar, tentunya peserta didik juga akan terlantar.
Adanya Covid-19, merupakan peristiwa yang tidak terlupakan sepanjang masa. Peserta didik diberi sosialisasi mengenai Covid-19 melalui pembelajaran daring. Tentunya kegiatan yang diberikan dikemas dengan cara yang menarik dan tidak membosankan. Pembelajaran daring di sekolah ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Ada beberapa kelas yang tidak terlaksana karena minimnya fasilitas yang dimiliki oleh orang tua. Jadi, diatasi dengan pemberian tugas saat di hari terakhir masuk sekolah.
Untuk mengetahui bahwa peserta didik sudah mengerjakan tugas, maka sekali waktu orang tua diharapkan datang kembali ke sekolah untuk menerima tugas yang baru lagi sambil membawa tugas yang sebelumnya.
Berdasarkan analisis kami melihat ada beberapa faktor penyebab diantaranya sebagai berikut:
1. Karakteristik peserta didik.
Perlu kita pahami bahwa peserta didik adalah bukan orang dewasa mini. Mereka memiliki sifat egosentris sehingga masih perlu bimbingan dan arahan. Setiap anak memiliki karakter dan tahap perkembangan berbeda- beda. Mereka juga memiliki tipe belajar yang berbeda- beda, ada yang audio, ada yang visual dan kinestetik.
2. Latar belakang orang tua.
Pekerjaan orang tua dari peserta didik juga berbeda- beda, ada yang menjadi pedagang, wiraswasta, PNS, buruh, IRT dan lainnya. Apalagi di masa PPKM seperti ini tentunya mereka harus berkarya lebih ekstra untuk menghidupi keluarga. Terutama orang tua yang bekerja sebagai tenaga medis sebagai garda terdepan menghadapi Covid-19 akhirnya mengorbankan keluarga dan anak-anaknya untuk belajar lebih mandiri.
3. Model pembelajaran.
Peserta didik lebih menyukai pembelajaran yang bersifat eksploratif dan sesuatu yang baru. Peserta didik diberi tugas tidak hanya sekedar menyelesaikan tugas di bukunya, tetapi peserta didik diberikan pula kegiatan kreativitas dengan bahan-bahan yang ada di rumah. Selain itu kemandirian, sopan santun dan membantu orang tua juga dilatih. Penugasan-penugasan yang bisa diberikan berupa:
a. Menggambar dan menceritakan tentang corona;
b. Melakukan praktek cuci tangan dengan benar;
c. Melayani orang tua dengan cara membuatkan air minum teh manis, mencuci piring dan memijit ibu;
d. Berolahraga dan berjemur;
e. Merapikan tempat tidur;
f. Menyanyikan lagu kesukaan;
g. Menghafal doa dan surat pendek dalam Al Qur`an, dan sebagainya.
4. Keaktifan orang tua dan anak.
Berdasarkan hasil yang dikirimkan orang tua baik berupa foto, voice note maupun video, ternyata tidak semua menyelesaikan tugasnya. Bisa juga sudah selesai dikerjakan namun belum sempat mengirimkan ke ibu atau bapak guru. Terkadang ada beberapa orang tua yang merasa kesulitan menghadapi anaknya. Mereka sudah berupaya membujuk tetapi tetap belum mau mengerjakan. Namun ini bukanlah suatu kendala yang tidak bisa diatasi, karena bagaimana pun anak-anak harus tetap belajar di rumah.
Kami sebagai guru hanya bisa menyampaikan agar peserta didik tidak perlu dipaksakan. Peserta didik diarahkan dengan sabar supaya mereka memiliki kemauan sendiri untuk mengerjakan. Karena penilaian di jenjang SD bukan tergantung pada hasil penugasan semata tetapi pada proses belajar. Hal terpenting lainnya adalah peserta didik masih terus terpantau saat bermain dan tidak terlalu larut bermain gawai di rumah.
Dari satu kelas yang dijadikan sampel, pembelajaran daring di kelas 4 SDN 1 Purwerejo, Kecamatan Modayag, Boltim, pembelajaran daring melalui grup orang tua peserta didik sudah berjalan dengan baik. Perlu adanya kerja sama dari pihak guru kelas, orang tua dan peserta didik sehingga berjalan lebih maksimal pembelajaran dan tugas untuk dilaksanakan. Inilah pembelajaran daring yang mau tidak mau harus kita lalui tak terbatas ruang dan waktu.
Dengan adanya pembelajaran daring ini, semua mendapatkan pelajaran berharga. Masa pembelajaran yang sebelumnya belum pernah ada dan dialami oleh peserta didik, dari sisi peserta didik, semakin dekat dengan orang tua, mereka mendapatkan pelajaran langsung dari orang tua.
Orang tua juga menjadi lebih perhatian ke putra putrinya. Mereka secara otomatis menggantikan posisi sebagai seorang guru. Lain halnyan dengan peserta didik jenjang SMP ke atas.
Mereka sudah lebih mandiri dalam mengerjakan tugasnya. Dari sisi guru harus mengup date dirinya supaya tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Semua bergerak dari jaringan on-line. Demi suksesnya pembelajaran daring, bagi guru yang memiliki orang tua peserta didik terkendala jaringan maka guru pun berkewajiban untuk tetap melayani pembelajaran.
Guru bisa berkunjung ke orang tua untuk menanyakan keadaan peserta didiknya, dan tugas, semoga virus corona segera berakhir di muka bumi ini. Aamiin YRA.
Penulis merupakan Guru SDN 1 Purwerejo, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur






Comment