by

Kris si Penjual Esa Dawet Ayu di Perempatan Motcil Tak Melepas Masker

mediatotabuan.co, Kotamobagu – Beberapa tahun belakangan es Dawet Ayu Banjarnegara menjadi piihan warga Kotamobagu, menghilangkan dahaga sat terik matahari. Kris si penjual di simpang empat (perempatan) Motoboi Kecil, mematuhi protocol kesehatan (protkes) karena tak mepelas masker yanag menutupi mulut dan hidung.

Saat ditemui, Kris sedang menunggu pelanggan mampir membeli es Dawet Ayu. Kepada media ini ia menyapa sembari bergurau, mungkin itu cara dia menarik perhatian pembeli, Kris tidak kaku, meski dialeg jawa begitu kental.

“Mau beli berapa juta mas, sapa Kris kepada pembeli yang merapat di gerobaknya,” kata Kris terdengar sambil tertawa, Kamis (30/9).

Wartawan media inipun sempat mengorek informasi seputar dagangan, mulai daru design gerobak yang memuat sepasang keranjang dan ada patung tokoh wayang Semar dan Baong, Kris pun menjawab bila design gerobak khusus es Dawet Ayu memang hampir sama semua, baik itu yang ada di Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah, maupun yang ada di luar.

“Memang model gerobaknya sudah seperti ini, ada keranjang dan tokoh wayang,” kata Kris, di perempatan Motoboi Kecil (Motcil).

Bila cuaca panas, Kris bisa meraup untung sekitar Rp 400 sampai dengan 500 Ribu, tapi kalau cuaca mendung apalagi hujan maka belum rejeki kata Kris. Pun, bahan yang dibawa jualan kalau tidaak laku harus di buang, kecuali cendol yang belum dicaampur itu bisaa disimpan pakai es atau dalam freezer, bahan lain seperti santan tidaak bisa lagi digunakan besok hari.

“Resikonya kalau sudah keluar dan tidaak laku maka rugi Pak, karena bahan lain tidak bisa dijual lagi besok,” aku Kris, yang mengaku beberapa kali hanya laku Rp 16 Ribu karena cuaca hujan.

Kris mengaku baru dua bulan di Kotamobagu, sebelumnya dia jualan serupa di Tanah Toraja Sulawesi Selatan. Saat itu bertepatan kebijakan PSBB, jadi susah jualan, walapu dirinya sudah patuhi protkes dengan 3M (memakai masker, mencuci tanagan dan menjaga jarak) tapi oleh pemerintah setempat tidak boleh jualan.

“Itu pengalaman Pak, untung ke Kotamobagu sudah bisa jualan, tapi ikuti anjuran pemerintah tetap pakai masker, kan itu juga untuk menjaga kesehatan sekaligus menjaga jualan kita ada tetap bersih. Kalau pakai masker kan jualan kita lebih aman, dan pembeli merasa nyaman,” katanya.

Ia berharap pandemi Covid-19 cepat berakhir sehingga mereka bisa berdagang lebih aman lagi. “Semoga Corona cepat berlalu ya Pak, biar jualan lebih aman lagi, tanpa ada rasa takut. Saat ini kan dikit-dikit ada larangan jualan,”

Informasi dirangkum, bila Es Dawet di Kotamobagu ada 5 cabang (gerobak) yang masing-masing mangkal di tempat berbeda, pusatnya kata Kris di Kelurahan Gogagoman.

“Jadi saya dorong gerobak dari Gogagoman sampai di sini, sambil jualan di jalan kan Pak,” kata Kris yang mengaku dari Banjarnegara.

 

Penulis: Fahmi Gobel

Comment