MEDIATOTABUAN.CO, LIBANON – Presiden Libanon Michel Aoun, meninggalkan istana kepresiden, sehari sebelum masa jabatannya berakhir.
Ia menyalahkan partai-partai oposisi karena berkontribusi menyeret negara itu ke dalam krisis politik dan ekonomi.
Krisis yang dialami Libanon menurut Aoun saat ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Perayaan “Halloween” di Arab Saudi Tuai Kontroversi
Ia menuduh Mikati dengan sengaja gagal membentuk pemerintahan untuk menciptakan kekosongan presiden.
“Dia berusaha untuk melanjutkan pemerintahan yang beroperasi dalam mode sementara, di tengah kekosongan kekuasaan, sehingga dia dapat mengambil alih kursi kepresidenan,” tuding Michel Aoun.
Namun, Mikati menanggapi bahwa ia akan terus menjalankan pemerintahan sesuai tugas konstitusionalnya, dalam mode caretaker.
Mikati mengatakan bila itu sesuai dengan ketentuan konstitusi dan peraturan, kecuali jika parlemen menyarankan sebaliknya.
Dia menambahkan, yang mengundurkan diri pemerintah, maka sesuai dengan konstitusi, tidak memiliki nilai konstitusional.
Mikati mengatakan bahwa “pemerintah yang mengundurkan diri” telah diwakili di hadapan parlemen dan berpartisipasi dalam membahas rancangan undang-undang.
Dan parlemen menyetujui sebagian besar dari mereka, terutama undang-undang anggaran umum untuk tahun 2022.
Kantor media Ketua DPR Nabih Berri membenarkan bahwa dia telah menerima surat dari Aoun dan Mikati.
Dalam pidatonya, Aoun mengatakan dalam peradilan negara itu mendasarkan pada balas dendam, bukan keadilan.
“Dan balas dendam adalah kejahatan,” kata Michel Aoun dikutip dari Reuters.
Dia meramalkan, kedepan akan lebih melelahkan dan tidak ada istirahat sebelum menarik negara itu keluar dari jurang kehancuran.
Dia mencatat bahwa dia akan menindaklanjuti pembentukan dana berdaulat untuk kekayaan minyak masa depan.
“Uang rakyat dilindungi oleh rakyat,” tegas Aoun.***
Penulis: Tim MT
Editor: Fahmi Gobel






Comment