Oleh: Deysi Mangkat S.Pd
Hari ini setiap saatnya kita membaca berita tidak pernah luput tentang Palestina. Semua platform media sosial yang kita punya penuh dengan tulisan, foto dan vidio kondisi di Palestina. Kita melihat jasad pemuda dan para Ayah tertimbun puing-puing sisa bangunan rumah mereka, para Ibu yang menangisi tubuh bayi mungilnya yang tak lagi bernyawa.
Kita melihat juga bagaimana anak-anak kebingungan mencari makan untuk mengisi perut kecilnya. Sampai berita tentang krisis pangan yang memaksa mereka makan rerumputan dan daging kura-kura.
Mengutip dari The Peninsula, Ahad, 20 April 2025, WFP menyatakan keprihatinan mendalam atas penurunan tajam stok pangan, dengan memperingatkan bahwa jalur Gaza berada di ambang bencana kemanusiaan.
Melihat hal ini tentu menyentuh hati nurani manusia. Ada rasa sedih, marah, kecewa bercampur malu juga. Sampai pada titik kita bertanya, “apa yang harus dilakukan? Apa solusi terbaik persoalan yang terjadi di Palestina?”.
Pada level individu tentu kita bisa berupaya memaksimalkan usaha semampu kita. Rasanya tidak cukup hanya sampai marah-marah di story dan kolom komentar. Terus lakukan edukasi pada diri sendiri, keluarga; dan tidak cukup hanya dengan sekali dua kali. Lakukan dengan konsisten untuk membangun kesadaran. Terus serukan aksi boikot. Jangan berhenti untuk donasi. Dan terus langitkan doa terbaik setiap hari. Tentu hal ini harus berawal dari dorongan yang kuat. Butuh alasan yang besar sehingga menjadi alasan kenapa perlu kita melatih diri untuk peduli dan mau melakukan hal-hal tersebut. Dan dorongan besar ini tiada lain adalah akidah. Dalam Islam akidah merupakan keyakinan pada kebenaran adanya Tuhan sebagai pencipta makhluk. Bukan hanya menciptakan, tetapi juga mengatur semua aspek khidupan. Baik diranah diri sendiri, hubungan dengan sesama manusia, dan bagaimana hubungan dengan pencipta. Maka, keyakinan yang kuat atas kebenaran akidah Islam yang menancap di hati seorang muslim akan membentuk kesadaran hubungannya dengan Allah Swt. Dan semua perbuatan yang dilakukan atas dasar perintah dan larangan Allah Swt.
Sebagai masyarakat yang hidup bersosial, ini bukan lagi soal kumpul-kumpul dan bicara simpati. Tapi, bagaimana kita membangkitkan kekuatan berjamaah dengan terus menyebarkan opini dan desakan kepada kaum muslimin di penjuru dunia. Paksa para diplomat untuk bersuara agar tidak tergerus arus politik yang bermuara pada keuntungan sekelompok orang saja hingga lupa kewajiban dan amanah kepemimpinannya. Inilah yang dalam Islam disebut dengan amar makhruf nahi munkar.
Seterusnya apa? Sisanya adalah tanggungjawab negara. Dan yang dimaksud bukan hanya satu atau dua negara. Perlu ada persatuan umat seluruh dunia untuk melawan penjajah. Dan hari ini persatuan itu masih tersekat oleh batas-batas garis imajiner berlapis nasionalisme. Tembok pembatas tiap negara bukan sekadar pembatas wilayah, tapi juga keterikatan saudara.
Tugas negara bukan hanya menyuarakan aksi solidaritas Global di forum Internasional. Dan terbukti sampai saat ini dukungan melalu seruan aksi solidaritas saja tidak membuahkan hasil apa-apa. Baru-baru ini para perwakilan parlemen dunia berkumpul dan berdiskusi dalam acara bertema “The Group of Perliaments in Support of Palestine” di Istanbul, Turki pada 18 April 2025. Indonesia termasuk negara yang mengirim perwakilannya yang di hadiri oleh ketua DPR RI Puan Maharani. (Kompas, 19-4-2025). Dan sama dengan hasil acara serupa yang dilakukan sebelumnya, forum ini hanya selesai pada sebatas berbincang seputar kondisi Palestina. Tidak ada seruan solusi fundamental. Berakhir dengan kalimat desakan agar Zionis Isreal menghentikan genosida.
Kita perlu memahami bahwa ancaman semata tak akan mengubah apapun dari perlakuan Zionis Israel. Apalagi negara adidaya turut serta dibelakang mereka. Impian membebaskan Palestina hanya akan terwujud dengan balasan serangan fisik atau jihad. Dan hal ini hanya akan terwujud jika adanya kepemimpinan politik Global yang akan menyatukan para tentara kaum muslim seluruh dunia. Tentara yang siap berjihad membela saudaranya.
Olehnya, menjadi kewajiban kita untuk menyerukan persatuan umat. Umat yang dipimpin oleh seorang khalifah (pemimpin) yang akan menjalankan kewajibannya jihad melawan penjajah. Karena Palestina bukan hanya berita. Palestina adalah indikator kebenaran akidah kita.
Penulis merupakan tenaga pendidik (guru) di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) An-Nahl Kotamobagu.***






Comment