Flasback Dua Api Pergerakan: Yusra–Nusron, Jejak Kongres Tenggarong Bertema: Marangkai Republik yang Terkoyak

“Mereka dulu bersuara dari jalanan. Kini mereka bicara dari podium kekuasaan. Tapi suara rakyat semestinya tetap sama menggema dalam dada mereka.”

Manado hari ini (17/7/2025) tidak ada kata jauh dari tampak beda.

Lalu lintas berjalan seperti biasa. Udara terasa hangat dengan semilir angin pesisir utara Sulawesi yang tak pernah benar-benar diam.

Namun di balik semua keheningan yang biasa itu, terjadi pertemuan yang luar biasa.

Di antara sorot mata yang menyaksikan dan barisan pejabat yang turut, Yusra Alhabsyi, Bupati Bolaang Mongondow, menyambut kedatangan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN RI, Nusron Wahid.

Sekilas, itu hanyalah peristiwa formal antara dua pejabat negara.

Tapi siapa sangka, di balik jabat tangan dan senyum protokoler, mengalir arus kenangan yang menukik jauh ke dalam sejarah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Pertemuan itu membangkitkan kembali jejak langkah dua anak muda yang pernah bersumpah untuk melawan ketidakadilan.

Mereka pernah berjalan dalam barisan yang sama, meneriakkan yel-yel perjuangan dari podium kampus, hingga mendobrak pintu-pintu kekuasaan yang buta dan tuli terhadap suara rakyat kala itu.

Dulu Mereka Bersuara dari Jalanan

Nusron Wahid sosok pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 12 Oktober 1973. Ia pernah memegang kendali tertinggi dalam organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia.

Ia adalah Ketua Umum PB PMII periode 2000–2003. Di masa kepemimpinannya, PMII tidak hanya hadir di ruang diskusi kampus, tapi berdiri di garda terdepan perjuangan demokrasi pasca Orde Baru yang tumbang di era 1998.

Sementara itu, jauh di timur Indonesia, Yusra Alhabsyi, yang kelak dikenal dengan panggilan akrab “Ucan”, memimpin PMII Cabang Manado.

Sebuah cabang organisasi yang walau jauh dari pusat kekuasaan, terkenal galak, kritis, dan militan.

Yusra bukan hanya bicara perubahan, ia melakukannya. Ia turun ke jalan, mendampingi petani, nelayan, kaum miskin kota.

Advokasi yang ia lakukan bukan sebatas berita media.

Ia ikut berdiri bersama rakyat saat penggusuran, ikut tidur di posko petani saat konflik tanah, ikut menangis saat rakyat kehilangan haknya.

Dari Desa Maen di Minahasa Utara, Pasar 45 Manado, hingga Pantura Bolaang Mongondow, nama Yusra hadir sebagai simbol perlawanan lokal terhadap ketidakadilan struktural.

Comment