Tapi waktu berjalan. Nusron melangkah ke panggung nasional. Ia beberapa kali meraih suara signifikan menjadi anggota DPR dari Partai Golkar, pernah Ketua Umm PP GP Ansor, Kepala BP2MI, dan kini pembantu Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri ATR/BPN.
Namanya tetap dikenal, suaranya tetap lantang, dan jaringan politiknya meluas dari partai ke lembaga negara.
Nusron adalah salah satu tokoh penentu di Partai Golkar.
Tak kalah mentereng, di lokall Sulut Yusra pun terus berproses. Tapi kini ia merambah di level nasional, menjadi pengurus PB IKA PMII dan jajaran Pembina PB PMII.
Ia memilih tetap membumi. Ia menjadi legislator, lalu didorong rakyat menjadi Bupati Bolaang Mongondow.
Satu fakta dan fenomena lain Pilkada 2024, karena Yusra diketahui tak banyak harta, dan mampu mengalahkan dua Paslon lainnya.
Ada hal yang tak pernah berubah adalah idealisme. Dari puluhan konflik tanah dan tambang yang ia dampingi, ia tak pernah pergi dari rakyat yang melawan kekuasaan demi hidup yang layak.
Dan Kini, Mereka Bertemu Lagi
Di Manado, tahun 2025 ini adalah tahun flashback. Takdir mempertemukan mereka lagi.
Dalam satu ruangan, dua mantan aktivis itu berdiri sebagai pemimpin.
Tapi jika kita perhatikan baik-baik, sorot mata mereka masih menyimpan nyala lama.
Dan saat tawa Yusra pecah menyambut Nusron, publik tahu, itu bukan basa-basi pejabat.
Itu adalah pertemuan dua jiwa yang pernah menyatu dalam satu perjuangan pergerakan.
Dan kini, rakyat berharap, keduanya bisa gelontorkan kebijakan, yang membuat senyum rakyat hangat, bersamaan hangatnya pelukan sebuah keluarga yang punya harapan kepastian hukum atas tanah mereka.
Nusron Wahid dan Yusra Alhabsyi adalah saksi zaman
Dua jiwa yang pernah berteriak lantang demi keadilan, kini dipercaya mengemban kekuasaan.
Namun rakyat tahu, kekuasaan sejatinya bukan soal jabatan, tapi soal keberanian untuk tetap berpihak pada yang kecil, yang tak terdengar, yang tersingkir.
Dan hari ini di Manado, ketika senyum tulus dan tawa hangat terlepas di antara keduanya, kita semua seperti diajak untuk percaya kembali
Bahwa idealisme tak harus mati di usia dewasa.
Bahwa sahabat seperjuangan bisa saling mengingatkan, bukan untuk saling menundukkan.
Tapi untuk terus menjaga mimpi lama, agar negara ini benar-benar hadir untuk semua, terutama bagi mereka yang hidup di tepian.
Karena pertemuan seperti ini, betapa pun singkat, adalah pengingat bahwa politik tak harus kehilangan nurani.
Bahwa mereka yang pernah berdiri di tengah rakyat, bisa kembali duduk bersama rakyat dengan kebijakan.
“Mereka mungkin sudah beruban, tapi semangat mereka tak lapuk dimakan waktu. Karena di dada mereka, masih tersimpan suara jalanan, masih tertanam cita-cita kampus, masih hidup tekad untuk melayani.”
Dan kita semua berharap, ketika kekuasaan kembali menantang hati, mereka akan ingat satu hal, bahwa mereka dulu bukan siapa-siapa, selain seorang aktivis yang jatuh cinta pada rakyat.***
Disclaimer: Beberapa kutipan dari sumber berita kutaikartanegara.com, dan satubmr.com






Comment